Ilmu Dasar Teknik Sipil
  • HOME
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy policy
  • terms of service
  • Home
  • Struktur
    • GEDUNG
    • JEMBATAN
    • JALAN
    • BANGUNAN AIR
  • BAHAN
    • BETON
    • BAJA
    • KAYU
  • PROGRAM
    • SAP 2000
    • AUTOCAD
    • HEC RAS
    • PLAXIS
    • MICROSOFT PROJECT
  • TEKNIK FONDASI
    • FONDASI RUMAH
    • FOOTPLATE
    • BORPILE
  • LAINNYA
    • TEKNIK GEMPA
    • GEOTEKNIK
    • MANAJEMEN
    • MEKANIKA TANAH
  • Daftar Isi

Selasa, 27 Juli 2021

Menghitung Volume Fondasi Pasangan Batu Gunung

 Jefri Harjawinata     Juli 27, 2021     Fondasi, Hitung Volume Fondasi, Volume Pondasi     No comments   

Pondasi adalah salah satu bagian terpenting yang ada pada konstruksi bangunan karena berfungsi sebagai penahan beban dan penyalur beban ke tanah. Fondasi ada beberapa jenis yang sering digunakan dalam pekerjaan konstruksi, namun berdasarkan kategori, fondasi dibagi menjadi dua jenis yaitu fondasi dangkal dan fondasi dalam. 

Salah satu fondasi dangkal yang digunakan untuk bangunan sederhana adalah fondasi menerus atau sering kita kenal juga dengan fondasi pasangan batu. Umumnya fondasi pasangan batu ini berbentuk trapesium dan menggunakan material batu gunung atau batu kali. Dalam perhitungan volume pondasi sering kali beberapa konsultan masih belum tepat dalam dalam menghitung volume pekerjaan, oleh sebab itu ini menjadi topik yang menarik untuk kita bahas bersama. 

Sebagai contohnya, kita akan menghitung volume dari pasangan batu pondasi berikut ini : 

Hitung Volume Fondasi

Seperti pada gambar diatas, ukuran yang kita ketahui dari pondasi adalah : 

Panjang Rencana Pondasi : 10 + 10 + 10 + 5 = 35 meter

Ukuran Pondasi :
Lebar Atas           : 30 cm (0,3 meter)
Lebar Bawah       : 60 cm (0,6 meter)
Tinggi Pondasi    : 50 cm (0,5 meter)

Langka pertama, kita cari dulu luasan dari penampang pondasi.  Karena bentuk pondasi adalah trapesium maka untuk mendapatkan luasan penampang, kita menggunakan rumus dari trapesium. 

Luas Pondasi adalah     
= [(Lebar atas + Lebar bawah)/2] x Tinggi
= [(0,3 + 0,6)/2] x 0,5
= 0,225 m2

Setelah mendapatkan luasan, langkah selanjutnya adalah menghitung volume dari pasangan pondasi tersebut. Untuk menghitung volume pondasi, kita hanya perlu mengkalikan luas penampang x panjang pondasi. Maka hasil dari volume pondasi tersebut adalah : 

Volume Pondasi adalah : 
= Luas Pondasi x Panjang Pondasi 
= 0,225 x 35 Meter 
= 7,875 m3 

Maka, dari hasil perhitungan diatas kita dapatkan bahwa volume pekerjaan pasangan batu fondasi adalah sebesar 7,875 m3. Setelah diketahui nilai kubikasinya, maka kita bisa mencari perkiraan harga kebutuhan untuk bahan maupun tenaga yang akan digunakan. Sekian dan Terimakasih, semoga bermanfaat !! 


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kamis, 27 Mei 2021

Perbedaan Jasa Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi, dan Kontraktor

 Jefri Harjawinata     Mei 27, 2021     konsultan pengawas, konsultan perencana, konsultan supervisi, kontraktor, tugas konsultan     4 comments   

Perbedaan Jasa Konsultan Perencana, Konsultan Supervisi, dan Kontraktor

Sebuah pertanyaan yang sering saya jumpai dalam diskusi saya dengan clien swasta ataupun orang yang awam dalam bidang konstruksi adalah Apa sih perbedaan antara konsultan dan kontraktor konstruksi?

Bagi rekan-rekan yang berkecimpung dibidang ini, pasti sudah sangat mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, maka artikel ini dikhususkan untuk rekan-rekan yang awam dan ingin menggunakan jasa konsultan ataupun kontraktor dalam membangun/merenovasi bangunan tapi masih bingung jasa apa yang harus digunakan. Mari kita bahas apa perbedaan antara konsultan perencana, konsultan supervisi, dan kontraktor? 

KONSULTAN PERENCANA

Konsultan Perencana adalah Jasa perorangan ataupun badan usaha yang memberikan/menawarkan sebuah jasa dalam melakukan perencanaan pembangunan suatu konstruksi, baik itu merencanakan struktur, mekanikal, arsitektur, lanscape, rencana anggaran biaya (RAB) serta dokumen-dokumen pelengkap lainnya. 

Dalam suatu pekerjaan konstruksi, pihak owner atau pemberi tugas yaitu pemerintah ataupun swasta, biasanya akan mencari atau menggunakan jasa konsultan perencana untuk mewujudkan ide-ide yang dimiliki agar dapat dituangkan dalam suatu konsep bangunan yang dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah teknis. Dan sesuai dengan nama jasa yang ditawarkan yaitu adalah Jasa Konsultan, maka perusahaan Jasa Konsultan adalah WAJIB orang teknik yang memahami ataupun ahli dalam bidangnya, misalnya itu adalah seorang Engineer Arsitek, Engineer Sipil, dan sebagainya. 

Adapun Tugas Konsultan Perencana, diantaranya yaitu : 

  • Mengadakan penyesuaian keadaan lapangan dengan keinginan pemilik proyek (bisa pihak swasta maupun pemerintah).
  • Membuat gambar kerja pelaksanaan. Membuat Rencana kerja dan syarat – sayarat pelaksanaan bangunan (RKS) sebagai pedoman pelaksanaan.
  • Membuat rencana anggaran biaya (RAB).
  • Memproyeksikan keinginan – keinginan atau ide – ide pemilik proyek ke dalam desain bangunan. Melakukan perubahan desain bila terjadi penyimpangan pelaksanaan pekerjaan dilapangan yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.
  • Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika terjadi kegagalan konstruksi. kemudian proses pelaksanaanya diserahkan kepada konsultan pengawas. Konsultan pengawas ini sendiri adalah orang/instansi yang menjadi wakil pemilik proyek di lapangan
Adapun Wewenang Konsultan Perencana, diantaranya yaitu : 
  • Mempertahankan desain dalam hal adanya pihak – pihak pelaksana bangunan yang melaksanakan pekerjaan tidak sesuai dengan rencana.
  • Menentukan warna dan jenis material yang akan digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi.

KONSULTAN SUPERVISI (PENGAWAS)

Konsultan Supervisi (Pengawas) adalah Jasa perorangan ataupun badan usaha yang memberikan/menawarkan sebuah jasa dalam melakukan pengawasan pembangunan suatu konstruksi, baik itu pengawasan struktur, mekanikal, arsitektur, lanscape, dll. 

Dalam suatu pekerjaan konstruksi, pihak owner atau pemberi tugas yaitu pemerintah ataupun swasta, biasanya akan mencari atau menggunakan jasa konsultan pengawas untuk mengawasi pekerjaan owner yang sedang berlangsung agar dapat dilaksanakan sesuai dengan kaidah-kaidah teknis. Dan sesuai dengan nama jasa yang ditawarkan yaitu adalah Jasa Konsultan, maka perusahaan Jasa Konsultan adalah WAJIB orang teknik yang memahami ataupun ahli dalam bidangnya, misalnya itu adalah seorang Engineer Arsitek, Engineer Sipil, dan sebagainya.

Adapun Tugas Konsultan Pengawas, diantaranya yaitu : 

  • Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak kerja.
  • Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan pelaksanaan proyek.
  • Membuat laporan prestasi pekerjaan proyek berdasarkan laporan teknis dari konsultan perencana untuk dapat dilihat oleh pemilik proyek. 
  • Memberikan saran atau pertimbangan kepada pemilik proyek maupun kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan.
  • Memeriksa dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan oleh kontraktor sebagai pedoman pelaksanaa pembangunan proyek.
  • Memilih dan memberikan persetujuan mengenai spesifikasi, tipe dan merk yang diusulkan oleh kontraktor agar sesuai dengan harapan pemilik proyek namun tetap berpedoman dengan kontrak kerja konstruksi yang sudan dibuat sebelumnya. 
Adapun Wewenang Konsultan Pengawas, diantaranya yaitu : 
  • Memperingatkan atau menegur pihak pelaksana pekerjaan jika terjadi penyimpangan terhadap kontrak kerja. 
  • Menghentikan pelaksanaan pekerjaan pembangunan jika kontraktor tidak memperhatikan peringatan yang diberikan. 
  • memberikan tanggapan atas usul pihak kontraktor. 
  • Memeriksa gambar shop drawing, rencana anggaran biaya dan spesifikasi pelaksana proyek
  • Melakukan perubahan dengan menerbitkan berita acara perubahan. 
Konsultan pengawas biasanya dibutuhkan ketika pelaksanaannya pada proyek bangunan skala besar. Konsultan pengawas bisa masuk kedalam Managemen Konstruksi (MK), Namun perbedaannya adalah MK mengelola jalannya proyek dari mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga akhir pekerjaan sedangkan konsultan pengawas hanya bertugas mengawasi jalannya fase pelaksanaan proyek pembangunan. 


KONTRAKTOR PROYEK

Kontraktor atau yang sering dikenal sebagai Pelaksana adalah suatu badan usaha yang digunakan/ditunjuk oleh owner untuk melaksanakan pekerjaan yang telah direncanakan oleh konsultan perencana. Apabila owner adalah pemerintah maka penunjukan pihak kontraktor dilakukan dengan melalui proses lelang/tender sedangkan apabila ownernya adalah swasta, maka pemilihan kontraktor dapat dilakukan secara personal ataupun berdasarkan track record perusahaan kontraktor tersebut. 

Adapun Tugas Kontraktor Pelaksana, diantaranya yaitu :

  • Mampu dalam memahami gambar desain, konsep dan spesifikasinya sebagai acuan dalam pelaksanaan pekerjaan. 
  • Menyusun kembali metode pelaksanaan konstruksi dan jadwal pelaksanaan pekerjaan bersama team kontraktor dan kemudian di konsultasikan dengan pihak owner serta unsur-unsur terlibat. 
  • Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan persyaratan waktu, mutu, dan biaya yang sudah ditentukan. 
  • Membuat program kerja harian dan memberikan pengarahan kegiatan setiap hari kepada mandor/tenaga kerja. 
  • Membuat evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksanaan pekerjaan dilapangan. 
  • Melakukan konsultasi dengan pihak konsultan pengawas, MK, maupun owner apabila terjadi perubahan dilapangan. 


Proses Pelaksanaan Pengawasan Pekerjaan Konstruksi Secara Langsung Dilapangan. 

Kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan konstruksi akan mengerjakan proyek sesuai dengan kontrak yang telah dibuat antara owner dan kontraktor itu sendiri. Pihak kontraktor akan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi teknis yang tercantum di dalam kontrak, dan menggunakan metode pekerjaan konstruksi yang telah direncanakan sebelumnya. Pada umumnya spesifikasi teknik sendiri merupakan produk dari konsultan perencana. Pihak kontraktor tidak diperbolehkan mengubahnya tanpa persetujuan terlebih dahulu. Bagian dari spesifikasi teknik mencakup Bill of Quantity (BOQ), Kerangka Acuan Kerja (KAK), Metode Pelaksanaan, dan dokumen kontrak harus dijadikan kontraktor sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan. 
Apabila dilapangan terjadi perubahan terhadap kontrak kerja, maka perlu dilakukan addendum tertulis yang disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proyek tersebut. 

Agar proyek dapat berjalan dengan baik dan berhasil, maka diperlukan kerjasama yang baik antar pihak-pihak yaitu Owner, MK, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas, dan Kontraktor. Setiap pihak perlu menjalankan tupoksinya masing-masing dengan baik dan bertanggung jawab. 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Minggu, 09 Mei 2021

Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)

 Jefri Harjawinata     Mei 09, 2021     Beton, konversi kuat tekan beton, kuat tekan     1 comment   

Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)
Sumber : Google.com

Beton terkenal karena kekuatannya dalam menahan gaya tekan. Kuat tekan beton merupakan parameter dari mutu/kualitas beton tersebut. Untuk mengetahui kuat tekan dari beton tersebut, maka perlu dilakukan mix desain dan pengujian terlebih dahulu di laboratorium untuk mengetahui komposisi material yang akan digunakan sebagai material pendukung dari beton. 

Mutu beton sendiri, sering kita ketahui dengan sebutan f'c 25 MPa ataupun K-250. Lantas, apa yang dimaksud dengan beton dengan mutu f'c dan beton dengan mutu K ?

PERBEDAAN NOTASI DAN SATUAN MUTU BETON

Mutu beton dengan menggunakan notasi f'c merupakan pengujian beton yang dilakukan dengan menggunakan benda uji silinder dengan diameter 150mm dan tinggi 300mm sesuai dengan standar SNI 03-2847-2002 yang merujuk pada aturan ACI (American Concrete Institute). Hasil dari pengujian benda uji silinder, mendapatkan nilai f'c dengan satuan MPa ( MegaPascal). Jika kita rubah satuannya maka 1 MPa = 1 N/mm2

Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)
Sumber : Google.com

Sedangkan mutu beton dengan menggunakan notasi K (Karakteristik), merupakan pengujian beton dengan menggunakan benda uji Kubus dengan ukuran 15x15x15 cm yang mengacu kepada PBI 1971 yang merujuk pada standar Eropa. Hasil dari pengujian benda uji kubus ini, mendapatkan nilai K dengan satuan Kg/cm2. 

Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)
Sumber : Google.com


CONTOH KONVERSI MUTU BETON

Langkah yang paling tepat dan akurat dalam penentuan nilai kuat tekan adalah dengan melakukan pengujian langsung terhadap sampel benda uji tersebut dilaboratorium namun untuk mempermudah dalam perhitungan mix desain ataupun perencanaan suatu bangunan, maka nilai kuat tekan dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang ada, dengan melakukan konversi kuat tekan beton. Sebagai contoh yang praktis yang sering digunakan dalam melakukan konversi kuat tekan beton adalah : misalnya nilai kuat tekan beton rencana yang ingin dicapai adalah K250 Kg/cm2, artinya benda uji yang digunakan harusnya menggunakan kubus berukuran 15x15x15 cm. Jika dalam tahap pelaksanaan ternyata pelaksana ataupun pengawas menggunakan sampel benda uji silinder, maka benda uji tersebut haruslah dikonversikan setelah melakukan pengujian sampel. 

Jika benda uji silinder dilakukan pengujian dan mendapatkan hasil f'c 25 MPa, apakah ini memenuhi persyaratan mutu beton tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari coba kita lakukan konversi sederhana dengan cara berikut ini : 

Hasil Pengujian Beton f'c = 25 MPa

Konversinya = 25 MPa / 0,83 = 30,120 MPa atau 300,120 Kg/cm2

Nilai konversi satuan untuk 1 MPa = 1 N/mm2 = 10 kg/cm2

Maka, dari perhitungan cara praktis diatas dapat disimpulkan bahwa nilai kuat tekan beton 25 MPa setara dengan nilai kuat tekan beton K-300. Artinya bahwa nilai kuat tekan beton tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk digunakan. 

Apabila contoh kasusnya dibalik, maka kita dapat melakukan perhitungan dengan cara yang sama halnya dengan perhitungan diatas. Sebagai contoh, nilai kuat tekan yang ditentukan adalah K-300 maka jika dikonversi adalah : 

K-300 kg/cm2 setara dengan 300 x 0,83 = 249 kg/cm2 atau sama dengan 24,9 MPa

Nilai konversi satuan untuk 1 MPa = 1 N/mm2 = 10 kg/cm2


*Sebagai catatan penting yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut : 

- Untuk mengetahui kepastian komposisi campuran dan kualitas yang diinginkan, bisa dilakukan dengan uji laboratorium atau mix desain serta melakukan slump test. 

- Nilai praktis untuk padanan mutu beton antara PBI (satuan K) dengan mutu beton SNI (satuan MPa) adalah 0,83

- Nilai konversi satuan untuk 1 MPa = 1 N/mm2 = 10 kg/cm2

- Adapun tabel konversi beton yang dapat digunakan sebagai berikut : 

Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)
Sumber : Google.com


Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Senin, 05 April 2021

Dasar Hukum Dan Pengertian Contract Change Order (CCO)

 Jefri Harjawinata     April 05, 2021     administrasi proyek, cco, contract change order     No comments   

Contract Change Order, Apa Itu? Admin Teknik Wajib Tau
Sumber : Google.com

Dunia konstruksi merupakan pekerjaan yang kompleks, unik, dinamis, dan penuh dengan risiko juga ketidakpastian. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa akan terjadi perubahan pekerjaan selama pekerjaan berlangsung, baik itu perubahan kecil ataupun besar. Permintaan untuk melaksanakan perubahan ini disebut Contract Change Order (CCO). CCO bisa terjadi kapanpun, mulai dari awal, pertengahan, sampai akhir pekerjaan konstruksi. 

Terjadinya changer order dalam suatu proyek konstruksi, dapat memberikan dampak positif maupun negatif secara langsung maupun tidak langsung kepada penyedia ataupun pemilik pekerjaan. Perubahan pekerjaan yang signifikan dan berskala besar dapat sangat berpengaruh terhadap mutu atau kualitas dari pekerjaan, diantaranya yaitu pelaksanaan pekerjaan konstruksi akan mengalami perubahan dan tidak sesuai lagi dengan dokumen kontrak yang telah disepakati terlebih dahulu oleh kedua belah pihak, yaitu pemilik dan penyedia jasa. 

Contract Change Order, Apa Itu? Admin Teknik Wajib Tau
sumber : https://www.pengadaanbarang.co.id


APA ITU CONTRACT CHANGE ORDER (CCO) ? 

1. Pengertian CCO menurut Para Ahli :  

    "Soeharto (1995) mengatakan bahwa CCO adalah perubahan setelah kontrak ditandatangani"

    " Ibbs dan Allen (1995) mengatakan bahwa Changer Order didefinisikan sebagai setiap peristiwa yang menghasilkan modifikasi lingkup asli, waktu pelaksanaan, biaya dan kualitas". 

    " Fisk (2006) mengatakan bahwa perubahan kontrak (CCO) merupakan suatu kesepatakan antara pemilik dan kontraktor untuk menegaskan adanya perubahan-perubahan rencana dan jumlah kompensasi biaya kepada kontraktor yang terjadi pada saat pelaksanaan konstruksi, setelah penandatanganan kerja antara pemilik dan kontraktor". 

2. Pengertian CCO dalam lingkup Institusi dan Pemerintahan. 

Menurut American Institute of Architect (AIA), Contract Change Order adalah sebuah permintaan secara tertulis yang ditandatangani oleh arsitek, kontraktor, dan pemilik yang dibuat setelah kontrak diterbitkan, yang mempunyai kuasa untuk mengubah ruang lingkup pekerjaan atau melakukan penyesuaian terhadap nilai kontrak dan waktu penyelesaian pekerjaan". 

Contract Change Order (CCO) di dalam pelaksanaan Proyek Pemerintah didefinisikan sebagai perubahan secara tertulis antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Penyedia/Rekanan/Kontraktor untuk mengubah kondisi dokumen kontrak awal, dengan menambah atau mengurangi pekerjaan. 

3. Perbedaan Contract Change Order, Addendum, dan Amandemen.
Mengenal tentang definisi serta perbedaan CCO, Amandemen, dan adendum memang sangat penting sebelum mengetahui lebih lanjut mengenai dampak CCO terhadap kualitas proyek konstruksi. Berikut perbedaan dari ketiganya:
  • Contract Change Order (CCO) adalah permintaan perubahan kontrak yang nantinya digunakan sebagai kuasa untuk mengubah ruang lingkup pekerjaan. 
  • Amandemen adalah perubahan kontrak tanpa ada penambahan atau pengurangan klausul/pasal kontrak. Sifatnya hanya melakukan perubahan dengan menambah atau mengurangi pada alinea atau paragrap yang sudah ada sebelumnya. Amandemen dilakukan disebabkan adanya kesalahan administratif namun perlu dinyatakan dalam bentuk tertulis dan disepakati oleh para pihak. 
  • Adendum adalah perubahan kontrak dengan penambahan atau pengurangan klausul/pasal kontrak yang secara fisik terpisah dari perjanjian pokoknya namun secara hukum melekat pada perjanjian pokok itu.

Beberapa ahli berpendapat bahwa Amandemen dan Adendum merupakan istilah yang sama atau memiliki padanan arti. Kedua istilah ini memiliki arti adanya perubahan atau penambahan dan pengurangan. 

Sehingga dapat dikatakan bahwa Adendum dan Amandemen secara substantif tidak berbeda, hanya pemakaian kedua istilah tersebut lebih umum digunakan di salah satu topik, yakni addendum dipakai pada suatu perikatan/perjanjian atau kontrak, sedangkan amandemen dipakai untuk perubahan undang-undang atau dasar hukum tertulis. 

DASAR HUKUM CCO

Meskipun peraturan terbaru mengenai Pengadaan Barang/Jasa, Pepres 16/2018, telah terbit, akan tetapi yang berkaitan dengan perubahan kontrak masih mengacu pada Perpres 54/2010. Perpres 54/2010 Pasal 87 menjadi dasar hukum untuk pelaksanaan CCO, dengan karakteristik CCO sebagai berikut:

1.) Apabila terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan pekerjaan, dengan gambar dan/atau spesifikasi teknis yang telah ditentukan di dalam Dokumen Kontrak, maka PPK bersama Penyedia Barang/Jasa dapat melakukan perubahan Kontrak yang meliputi antara lain:
  • Menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam kontrak;
  • Menambah dan/atau mengurangi jenis item pekerjaan;
  • Mengubah spesifikasi teknis dan gambar pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan/lokasi pekerjaan;
  • mengubah jadwal pelaksanaan;
  • Jika diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan, CCO diizinkan untuk pekerjaan tambahan sehinggan kontraktor dapat melaksanakan pekerjaan tambah yang belum tercantum dalam kontrak. 
2.) Pekerjaan tambah dilaksanakan dengan ketentuan: tidak melebihi 10% (sepuluh perseratus) dari harga yang tercantum dalam perjanjian/Kontrak awal; dan harus tersedia anggaran untuk melaksanakan pekerjaan tambahan.

3.) Pihak Kontraktor dilarang mengalihkan pelaksanaan pekerjaan utama berdasarkan Kontrak, dengan melakukan subkontrak kepada pihak lain, kecuali sebagian pekerjaan utama kepada penyedia Barang/Jasa spesialis. Apabila melanggar, maka akan dikenakan sanksi berupa denda yang bentuk dan besarnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Dokumen Kontrak.

4.) Perubahan kontrak yang disebabkan masalah administrasi, dapat dilakukan sepanjang disepakati oleh kedua belah pihak

DAMPAK CONTRACT CHANGE ORDER (CCO)

Dampak dari CCO pada proyek konstruksi sangat besar jika tidak diantisipasi dengan baik. Contoh dampak langsungnya adalah alur kerja yang terganggu, meningkatnya biaya konstruksi karena adanya penambahan volume dan material serta penyesuaian waktu, penjadwalan ulang pelaksanaan setelah dilakukan perubahan pekerjaan, adanya konflik antara kontraktor dengan pemilik, dan lain sebagainya.

Secara umum dampak CCO bisa dibagi ke dalam lima kategori, yaitu : 

1. CCO berdampak pada waktu
Contract change order pada proyek konstruksi menjadi salah satu penyebab dari penundaan waktu akibat time overruns. Dampak yang berhubungan dengan waktu antara lain terlambatnya penyelesaian pekerjaan, keterlambatan logistik, material dan pesyaratan pengadaan terlambat, rework, demolition dan rencana ulang. 

2. CCO berdampak pada biaya
Dampak CCO yang berhubungan dengan biaya diantaranya penambahan biaya, penambahan biaya overhead, adanya dana kompensasi, adanya perubahan pada cash flow, hilangnya keuntungan dan adanya penambahan pembayaran bagi kontrakto

3. CCO berdampak pada produktivitas
CCO pekerjaan konstruksi akan mempengaruhi pada produktivitas antara lain penurunan produktivitas kerja baik pada peralatan maupun pada tenaga kerja manusia, adanya pemadatan pada jadwal pelaksanaan proyek. 

4. CCO berdampak pada meningkatnya tingkat risiko. 
CCO juga akan mengakibatkan dampak tingkat risiko terhadap pengerjaan proyek tersebut meningkat diantaranya kemajuaan proyek terhambat, berkurangnya kesempatan percepatan proyek, hilangnya float, meningkatnya sensitivitas pada keterlambatan, hambatan di lapangan/lokasi kerja dan gangguan-gangguan pada setiap pekerjaan.

5. Hubungan dampak CCO dengan lainnya. 
Adapun dampak lainnya dengan adanya CCO pada suatu proyek diantaranya rendahnya hubungan profesionalisme antara PPK dengan Penyedia, terjadinya klaim dan sengketa, rendahnya mutu dan kualitas pekerjaan, merusak nama baik kontraktor, dan terjadinya kondisi keamanan yang buruk.

Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi dapat dipastikan akan terjadi CCO. CCO dilakukan agar suatu proyek dapat terselesaikan dengan tujuan memenuhi keinginan dan harapan pengguna jasa. Akan tetapi, di sisi lain apabila banyak terjadi CCO akan merugikan terhadap proyek konstruksi. Oleh karena itu diperlukan usaha untuk meminimalkan perubahan beserta dampak CCO, yakni harus ada pengelolaan/pengendalian CCO yang paling efektif dan tepat sasaran agar tercapai tujuan dari proyek konstruksi.


Sumber : https://www.pengadaanbarang.co.id/2019/08/contract-change-order-cco.html
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Rabu, 17 Maret 2021

Menghitung Volume Atap Yang Benar

 Jefri Harjawinata     Maret 17, 2021     atap, hitung atap, volume atap     No comments   

Dalam mengerjakan suatu proyek bangunan sederhana misalnya rumah tinggal, salah satu item pekerjaan yang harus dihitung biayanya adalah pekerjaan atap. Sewaktu membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB), salah satu aspek yang perlu diketahui adalah volume pekerjaannya. Perhitungan volume atap terbilang cukup sulit, mengapa? karena dalam perhitungan volume atap, kita perlu mengetahui juga sudut kemiringan atap tersebut dan juga bentuk atau model atap yang bervariasi juga, akan menyulitkan dalam perhitungan volume atap yang benar. Sudut kemiringan atap akan mempengaruhi volume luasan dari pekerjaan atap. Lantas, bagaimana cara menghitung volume atap yang benar? Mari kita perhatikan contoh berikut : 

Hitunglah Luas atap dari gambar berikut ini : 
Lebar bangunan             :     6,00 meter
Panjang bangunan         :     6,00 meter
Model Atap                    :     Pelana
Menghitung Volume Atap
Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan dalam menghitung atap. Misalnya apabila kita mempunyai gambar kerja, maka tentu akan mempermudah kita dalam menghitung volumenya, mengapa? karena dari gambar kerja, bisa diketahui ukuran dari atap tersebut. Sebagai contoh pada gambar dibawah ini, kita bisa tahu panjang dari setiap sisi atap.
Menghitung Volume Atap

pada gambar diatas, untuk mengetahui volume atap sangat mudah. kita hanya perlu mengetahui panjang sisi miring atap dan lebarnya. Digambar kita ketahui bahwa panjang miringnya adalah 4,38 meter dan lebarnya adalah 6,61 meter. Maka volume luasan atap tersebut adalah : 

Luas Atap adalah : 4,38 meter x 6,61 meter = 28,95 m2 (satu sisi)
maka untuk 2 sisi adalah = 57,9 m2

Pada kasus ini, mudah karena kita memiliki gambar kerja. Tapi bagaimana jika kita tidak mempunyai gambar kerja dan kita harus melakukan suatu pekerjaan rehabilitasi atap bangunan tanpa mengetahui ukuran sebenarnya dari atap karena mungkin kondisi atap yang sulit untuk dijangkau ketika melakukan pengukuran? 

Langkah - langkah yang perlu kita lakukan adalah : 
1. Mengukur Panjang dan Lebar atap dari bawah, tanpa perlu naik keatap bangunan untuk diukur. 
2. Mencari ketinggian atap, khusunya sudut vertikal saja yaitu tinggi tiang raja dimulai dari nok atap sampai ringbalok.  Beberapa orang terbiasa juga dengan menghitung panjang miring atap menggunakan perhitungan ukuran jumlah penutup atap yang digunakan.
3. Mencari sudut miring menggunakan rumus Pytagoras ataupun rumus mencari sudut. 
4. Kemudian berdasarkan data yang diketahui, kita bisa menemukan setiap ukuran sisi atap dan kemudian dapat menghitung volume atap. 

Untuk lebih jelasnya, rekan-rekan bisa melihat contoh perhitungan atap pada video saya berikut ini : 

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Sabtu, 03 Oktober 2020

Menghitung Kebutuhan Wiremesh dan Berat Besi Wiremesh

 Jefri Harjawinata     Oktober 03, 2020     Berat Besi, Berat Besi Wiremesh, Kebutuhan wiremesh, Wiremesh     8 comments   

Menghitung Kebutuhan Wiremesh dan Berat Besi Wiremesh

Penggunaan besi wiremesh tentu sudah tidak asing lagi bagi pekerja konstruksi. Banyaknya penggunaan wiremesh dalam pekerjaan konstruksi tentu dikarenakan pertimbangan-pertimbangan teknis yang akan memudahkan pekerjaan dilapangan dan juga agar pekerjaan menjadi lebih efisien dari segi kualitas dan waktu pekerjaan. Sebelum kita membahas tentang perhitungan kebutuhan wiremesh dan berat besi, mari kita sedikit mengulas tentang apa itu wiremesh, dan untuk apa saja kegunaannya.  

APA ITU WIREMESH?

Wiremesh adalah rangkaian kawat beton berbentuk jaring-jaring dengan spasi tertentu yang pada tiap titik pertemuannya dihubungkan dengan mesin las listrik bertegangan tinggi sehingga memiliki kualitas las yang baik. 

Ukuran diameter tulangan Wiremesh biasa ditulis dengan awalan M misalnya M6 untuk Wiremesh dengan diameter tulangan 6 mm. Umumnya ukuran diameter Wiremesh yang ada adalah ukuran M4, M5, M6, M7, M8, M9, M10, M12.  Terdapat 2 jenis wiremesh yang ada dilapangan atau yang diproduksi, yaitu wiremesh berupa lembaran dan wiremesh berupa gulungan atau roll. Ukuran standard untuk wiremesh lembaran adalah  ukuran 2,1 x 5,4 meter, tetapi untuk ukuran diameter kecil seperti M4 dan  M5 tersedia juga dalam bentuk Roll ukuran 2,1 x 54 m. 

Menghitung Kebutuhan Wiremesh dan Berat Besi Wiremesh

 (Gambar : Wiremesh Lembaran) 


Menghitung Kebutuhan Wiremesh dan Berat Besi Wiremesh
(Gambar : Wiremesh Gulungan/Rool)

FUNGSI DAN PENGGUNAAN WIREMESH

Wiremesh banyak digunakan untuk material perkuatan atau tulangan dalam pengecoran, seperti untuk pengecoran jalan dan lantai. Biasanya untuk ukuran M8, M9, M10 digunakan untuk gedung bertingkat. sedangkan untuk rumah dapat menggunakan ukuran M4, M5, M6.

Selain untuk penguat beton, material ini juga dapat digunakan untuk kawat bronjong, penguat talud, dinding beton, saluran drainase beton, trotoar dan anak tangga.

KELEBIHAN PENGGUNAAN WIREMESH

Kelebihan dalam menggunakan wiremesh jika dibandingkan dengan penggunaan besi beton adalah : 

1. Pelaksanaan pekerjaan pembesian tulangan beton akan lebih cepat, karena tidak banyak bagian yang perlu di anyam lagi, hanya titik penyambungan antar wiremesh tetap perlu di ikat atau di las berbeda dengan menggunakan besi tulangan biasa, setiap tulangan pokok dan tulangan bagi harus diikat, dan tentunya akan menggunakan lebih banyak waktu kerja. 

2. Jarak penulangan jauh lebih baik dibandingkan dengan penggunaan penulangan menggunakan besi beton biasa. Jarak antar wiremesh sudah paten dikeluarkan dari pabrik yaitu 15 cm setiap kotak, sedangkan jika menggunakan penggunaan besi beton biasa, tentunya jarak antar penulangan bisa saja meleset dari rencana, misalnya rencana 15 cm tetapi yang terpasang 20 cm.  

3. Lebih mudah dalam transportasi pengiriman materialnya karena ukuran wiremesh yang lebih kecil dibandingkan dengan besi beton. Jika kita membeli wiremesh lembaran, ukurannya adalah 2,1 x 5,4 meter akan lebih mudah dibandingkan dengan harus membawa besi tulangan yang panjangnya 12 meter. 

MENGHITUNG KEBUTUHAN WIREMESH DAN BERAT BESI WIREMESH

Sekarang mari kita perhatikan satu contoh kasus dan mencoba untuk menghitung kebutuhan besi wiremesh dan berat besi wiremeshnya. 

Contoh Kasus : 

Menghitung Kebutuhan Wiremesh dan Berat Besi Wiremesh
(Gambar : Denah Plat Lantai)

Seperti contoh gambar diatas, kita akan menggunakan wiremesh M8 untuk penulangan plat lantai dengan pembesian 2 layer. Luas plat lantai yang akan dikerjakan adalah 279,7 m2. Berapa kebutuhan wiremesh yang digunakan dan berapa berat besi wiremesh tersebut? 

Penyelesaian : 

Terlebih dahulu, kita harus menghitung luasan dari wiremesh yang kita gunakan yaitu wiremesh lembaran dengan ukuran 2,1 x 5,4 meter. Maka luas dari 1 lembar wiremesh adalah : 

Lebar wiremesh = 2,1 meter

Panjang Wiremesh = 5,4 meter

Luas 1 lembar wiremesh adalah =  2,1 x 5,4 meter = 11, 34 m2

Maka, kebutuhan wiremesh adalah : 

Luas Plat Lantai / Luas Wiremesh = 279,7 / 11,34 = 24,66 Lmbr (25 Lembar)


Menghitung Berat Besi Wiremesh M8

Jumlah besi  panjang 2,1 meter = 36 batang

Jumlah besi panjang 5,4 meter = 15 batang 

Panjang besi total untuk 1 Lembar Wiremesh adalah : 

2,1 meter x 36 batang = 75,6 meter

5,4 meter x 15 batang = 81 meter 

Maka total panjang adalah = 75,6 meter + 81 meter = 156,6 meter

Berdasarkan tabel berat besi, berat besi diameter 8 mm ulir adalah = 0,395 kg/meter

Menghitung Kebutuhan Wiremesh dan Berat Besi Wiremesh
(Gambar : Tabel Berat Besi)


Berat besi untuk 1 lembar wiremesh adalah = 0,395 kg/m x 156,6 m = 61,857 kg

Maka berat besi wiremesh M8 untuk kebutuhan plat lantai dengan pembesian 2 layer adalah : 

25 lembar x 61,857 kg = 1.546, 425 kg x 2 layer = 3.092,85 Kg


Kesimpulan dari hitungan diatas berdasarkan contoh kasus adalah didapatkan bahwa : 

Jumlah Kebutuhan wiremesh M8 untuk plat lantai = 50 Lembar ( 2 Layer)

Berat besi wiremesh M8 yang digunakan untuk plat lantai dengan pembesian 2 layer = 3.092,85 Kg


Berdasarkan dasar perhitungan ini, kita bisa menghitung kebutuhan material wiremesh yang akan kita gunakan dan tentunya jika kita harus membuat RAB, kebutuhan kg besi harus kita gunakan untuk mengetahui harga dari besi wiremesh yang digunakan. Sekian, dan semoga bermanfaat. 

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Minggu, 27 September 2020

Metode Pengerjaan Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

 Jefri Harjawinata     September 27, 2020     Beton, Bondek, Plat lantai, steel deck, Wiremesh     No comments   

Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan dalam bidang konstruksi, hal ini membuat semakin banyak metode kerja, alat, maupun material yang dibuat untuk digunakan dalam mempermudah pekerjaan konstruksi. Salah satu metode kerja yang mempermudah pekerjaan dilapangan khususnya dalam pekerjaan plat lantai untuk konstruksi bangunan yaitu metode plat lantai menggunakan bondek/steel deck dan wiremesh. 

Sebelum metode pekerjaan plat lantai menggunakan bondek dan wiremesh banyak digunakan saat ini, terlebih dahulu kita sering menggunakan metode pekerjaan plat lantai konvensional, contoh plat lantai konvensional yang masih digunakan hingga saat ini : 

Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

Plat lantai konvensional memang masih digunakan hingga saat ini, namun sudah tidak sebanyak dahulu karena banyaknya studi yang membandingkan penggunaan plat lantai konvensional dengan penggunaan plat lantai bondek dan wiremesh. Berdasarkan hasil - hasil studi tersebut, mayoritas berpendapat bahwa penggunaan plat lantai menggunakan bondek dan wiremesh lebih efisien dibandingkan dengan plat lantai konvensional, efisien baik dari segi biaya, mutu, dan waktu. Oleh karena itu, sekarang lebih banyak ditemui pekerjaan plat lantai menggunakan metode bondek dan wiremesh. 

Metode pekerjaan plat lantai dengan bondek dan wiremesh, bisa kita bagi kedalam 3 (tiga) metode pekerjaan, diantaranya yaitu : 

1. Balok dan Plat dikerjakan bersamaan.

2. Balok di cor 3/4 dari ketinggian (h) balok. 

3. Balok di cor terpisah dengan plat lantai. 

Mari kita bahas satu persatu dari metode - metode yang disebutkan diatas. 

1. BALOK DAN PLAT DIKERJAKAN BERSAMA

Dalam metode ini, balok dan plat lantai akan dikerjakan bersamaan. Sewaktu kita membuat bekisting untuk balok, kita perlu menyiapkan posisi bekisiting bagian dalam plat untuk digunakan sebagai bagian dari tumpuan bondek. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat gambar berikut : 

Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

Pada metode ini, kita akan langsung melakukan pengecoran balok bersamaan dengan plat lantai yang menggunakan bondek dan wiremesh. 

2. BALOK DI COR 3/4 DARI KETINGGIAN BALOK

Pada metode ini, kita akan mengecor balok terlebih dahulu sebelum kita mengerjakan plat lantai. Tetapi, pengecoran balok hanya kita lakukan 3/4 dari ketinggian balok, atau 75% dari tinggi balok(h). Setelah itu, barulah kita mulai mengerjakan plat lantai. Konsepnya hampir sama dengan metode 1, jadi pada bagian bekisting dalam balok, kita akan gunakan sebagai tumpuan dari bondek dan wiremesh. Sisah dari balok yang belum dicor yaitu sekitar 25%, itu kita gunakan untuk merakit besi wiremesh, kemudian barulah kita akan lakukan pengecoran sisa balok bersamaan dengan plat lantai. 

3. BALOK DI COR TERPISAH DENGAN PLAT LANTAI

Pada metode ini, kita akan melakukan pengecoran terlebih dahulu untuk balok, lalu kemudian barulah kita mengerjakan plat lantai. Namun hal yang sangat penting dalam pekerjaan dengan metode ini yaitu adalah  pemasangan angker atau stek. Untuk lebih jelas bisa kita lihat digambar di bawah ini : 

Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

Plat Beton Menggunakan Bondek dan Wiremesh

Pada metode ini, hal yang paling penting yang tidak boleh kita lupakan adalah pemasangan angker ataupun stek. Sewaktu kita melakukan pekerjaan pembesian pada balok, kita perlu memasangkan angker atau stek pada pada balok sebelum balok di cor. Agar lebih aman, angker yang dipasangkan berjarak 20 cm antar angker dan dari permukaan atas balok, panjang angker yang digunakan untuk ikatan ke wiremesh adalah 40-50cm. 

Itulah 3 (Tiga) metode dalam pengerjaan plat lantai bondek dan wiremesh. Untuk lebih jelasnya kalian bisa lihat di videonya yang akan saya upload di youtube saya dibagian bawah artikel ini, dan jangan lupa untuk di dukung channel ini untuk terus bisa memberikan tips dan berbagi ilmu seputar dunia teknik sipil. 

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Kamis, 24 September 2020

Perbandingan Biaya Atap Baja Ringan dan Atap Kayu, Lebih Murah Mana?

 Jefri Harjawinata     September 24, 2020     atap Baja ringan, atap kayu, konstruksi atap     No comments   

Sumber : Google.com

Berhubung banyaknya pertanyaan tentang penggunaan konstruksi atap baja ringan dengan konstruksi kayu lebih efisien yang mana, maka pada artikel ini kita mau mengupas tentang kelebihan dan kekurangan dari masing-masing konstruksi itu sendiri, baik konstruksi atap baja ringan ataupun konstruksi atap kayu. 

Konstruksi atap kayu, tentunya sudah jauh lebih dikenal oleh masyarakat karena konstruksi atap kayu ini sudah ada sejak jaman dulu dibandingkan dengan atap baja ringan yang muncul di era jaman modern saat ini. Dari beberapa sumber refrensi yang saya pelajari khususnya tentang perbandingan kayu dan baja ringan, saya pribadi mendapatkan beberapa hal yang menurut saya sebenarnya tidak bisa dijadikan dasar untuk membandingkan antara kayu dan baja ringan dikarenakan ada faktor lain yang akan menentukan pilihan kita untuk  menggunakan kayu atau baja ringan. Nah maka sebelum kita menentukan apakah akan menggunakan kayu atau baja ringan sebagai konstruksi atap, alangkah baiknya kalau kita pertimbangkan dulu beberapa faktor dibawah ini : 

1. Ketersediaan Bahan/Material
Beberapa sumber refrensi yang saya baca, ada yang mengatakan baja ringan lebih murah dari kayu, tapi bagi saya sehubungan dengan hal ini sifatnya relatif, mengapa? karena harga material akan dipengaruhi oleh ketersediaan bahan dilapangan. Jika di kota besar atau negara maju, tentu saja harga kayu akan sangat mahal dikarenakan ketersediaan kayu yang minim atau sedikit yang diakibatkan misalnya oleh pelarangan terhadap penebangan kayu atau hutan secara ilegal.

Tentu hal ini akan berbeda dengan daerah kecil ataupun pedalaman yang minim akses transportasi dan masih dikelilingi oleh hutan yang banyak. Pastinya, material kayu akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan material baja ringan yang bisa jadi harus di datangkan dari luar kota. Oleh sebab itu, untuk persoalan harga atau cost mana yang lebih efisien penggunaannya maka tentunya jawaban yang paling tepat adalah bergantung lokasi anda berada atau tinggal saat ini. 

Saya coba untuk menghitung kebutuhan material baja ringan maupun kayu apabila digunakan di daerah saya sebagai berikut : 

KONSTRUKSI KAYU


1). Kuda - Kuda
Spesifikasi                     = Kuda-kuda balok uk 5/10 cm kayu kelas I
Harga per batang           = Rp. 120.000 ( 1 btg = 4 meter)
Panjang 1 kuda-kuda     = 17,2 meter
Jumlah kuda-kuda         = 3 buah

Kebutuhan balok untuk 1 kuda-kuda adalah : 
= 17,2 meter : 4 meter 
= 4,3 btg ( dibulatkan 5 btg)

Jumlah untuk 3 buah kuda-kuda adalah = 15 btg balok

2). Gording 
Spesifikasi                     = Kayu balok uk 5/10 cm, Kayu Kelas II
Harga per batang           = Rp. 70.000 (1 btg = 4 meter)
Panjang total gording    = 112 meter

Kebutuhan balok untuk gording adalah : 
= 112 meter : 4 meter
= 28 batang balok

Maka kebutuhan balok gording adalah = 28 batang balok

Harga kebutuhan balok kayu kuda-kuda adalah = 15 btg x Rp. 120.000 = Rp. 1.800.000
Harga kebutuhan balok kayu gording adalah = 28 btg x Rp. 70.000 = Rp. 1.960.000
Maka total belanja kebutuhan balok konstruksi atap kayu adalah = Rp. 3.760.000

Dengan kasus yang sama, mari kita coba hitung lagi kebutuhan dengan menggunakan konstruksi atap menggunakan baja ringan. 

KONSTRUKSI BAJA RINGAN


1). Kuda - Kuda
Spesifikasi                     = Baja ringan Canal C 0,75
Harga per batang           = Rp. 150.000 ( 1 btg = 6 meter)
Panjang 1 kuda-kuda     = 17,2 meter
Jumlah kuda-kuda         = 3 buah

Kebutuhan Canal C untuk 1 kuda-kuda adalah : 
= 17,2 meter : 6 meter 
= 2,86 btg ( dibulatkan 3 btg)

Jumlah untuk 3 buah kuda-kuda adalah = 9 batang canal C

2). Reng Baja Ringan profil V 
Spesifikasi                     = Baja Ringan profil V
Harga per batang           = Rp. 75.000 (1 btg = 6 meter)
Panjang total gording    = 112 meter

Kebutuhan balok untuk gording adalah : 
= 112 meter : 6 meter
= 18,6 btg dibulatkan 19 batang reng Canal V

Maka kebutuhan reng canal V adalah = 19 batang

Harga kebutuhan canal C kuda-kuda adalah = 9 btg x Rp. 150.000 = Rp. 1.350.000
Harga kebutuhan reng canal V adalah = 19 btg x Rp. 75.000 = Rp. 1.425.000
Maka total belanja kebutuhan  konstruksi atap baja ringan adalah = Rp. 2.775.000

Jika kita perhatikan dari hitungan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa baja ringan lebih murah jika dibandingkan dengan konstruksi atap kayu ditempat saya. Namun, perlu kita ingat juga bahwa harga diatas belum termasuk aksesoris atau bahan-bahan pendukung dalam pekerjaan itu sendiri, misalnya pada pekerjaan kayu tentu kita perlu membeli lagi paku, besi strip, dan tentunya juga perlu di residu agar terlindung dari rayap. Dan, pada baja ringan, kita juga perlu membeli lagi baut screw ataupun dinabolt. 
Tidak lupa juga, kita perlu mempertimbangkan harga upah dari pekerja. Tentu jika kita menilai dari segi kecepatan pengerjaan, maka saya pribadi yakin bahwa pekerjaan menggunakan baja ringan akan jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan konstruksi atap kayu. 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Senin, 01 Juni 2020

Mahasiswa Teknik Sipil Wajib Baca!! Istilah Proyek di Lapangan

 Jefri Harjawinata     Juni 01, 2020     ilmu lapangan, istilah proyek     3 comments   

Sebelumnya saya senang mengucapkan selamat karena kamu sangat beruntung jika kamu adalah seorang mahasiswa teknik sipil yang sedang membaca artikel ini. Kenapa saya mengatakan demikian? karena ketika nanti kamu akan terjun di real project di lapangan, kamu akan sering mendengarkan atau menggunakan istilah - istilah berikut untuk dapat berkomunikasi dengan orang - orang dilapangan. 

Berdasarkan pengalaman saya dilapangan, maka saya senang untuk membagikan istilah - istilah berikut kepada rekan - rekan sipil sekalian terutama buat kalian yang masih baru akan memulai karir kalian di proyek - proyek sipil. Istilah - istilah yang akan kalian dapatkan di artikel ini tidak akan pernah kalian temui di bangku kuliah, karena istilah ini terlahir di dunia proyek lapangan bukan dibangku kuliah kalian atau dunia akademisi. 

1. Bodeman
Bodeman adalah sebutan untuk landasan dari bekisting balok. Pemasangan bodeman biasa dilakukan sekaligus untuk mengatur elevasi balok. 

2. Tembereng 
Tembereng adalah sebutan untuk bagian dari bekisting balok bagian sisi kiri dan kanan. Istilah tembereng ini sering digunakan oleh tukang diwilayah pulau jawa. Bekisting balok biasanya menggunakan multiplek ukuran 9mm atau 12mm tergantung dari ukuran dimensi balok yang akan di cor. 

3. Suri - Suri
Suri - suri adalah sebutan untuk kayu balok yang digunakan untuk alas atau tumpuan bodeman. Umumnya menggunakan kayu kelas III sudah cukup dengan ukuran 6/12 atau 5/10 cm. Jarak antar suri - suri umumnya adalah 40-50 cm dan panjangnya adalah 1,5 meter - 2 meter.

4. Gelagar
Gelagar adalah kayu balok berukuran 8/12 cm atau 6/12 cm yang digunakan sebagai tumpuan dari suri-suri. Umumnya menggunakan kayu kelas III sudah cukup kuat dan gelagar sendiri akan di topang oleh perancah yaitu skafolding. 

5. Jester
Jester adalah metode pelaksanaan pekerjaan bekisting balok dan pelat yang merupakan bagian dari bodeman. Fungsi jester dalam bodeman adalah sebagai pengunci dan pembuka bekisting balok dan pelat ketika selesai dicor. Letak jester pada balok terletak ditepi yang berhubungan langsung dengan kolom. Jester akan rusak ketika membongkar bekisting namun memang tujuannya adalah dirusak agar bekisting yang lain tidak ikut rusak. 
sumber : ilmuproyek.com

6. Balok Sekor
Balok sekor merupakan balok berukuran 5/7 atau 5/5 cm yang digunakan untuk pendukung bekisting agar bekisting lebih kokoh atau kuat sewaktu di cor. 

7. Tierod 
Tierod adalah sebutan untuk alat bantu berupa besi yang berfungsi untuk mengunci bekisting pada kolom. Tierod ini biasanya menggunakan besi beton berdiameter 10 mm kemudian disambung dengan as drat dan plat besi. Panjang tierod tergantung dari ukuran kolom struktur misalnya jika kolom yang dibuat ukuran 50x50 cm maka panjang tierod harus lebih dari 50 cm untuk satu sisi, misalnya bisa digunakan 70 cm.
Tierod juga sangat penting khususnya saat pengecoran kolom, karena tierod ini yang menjadi pengunci pada kolom agar tidak bergeser atau bergerak sewaktu pengecoran. Apabila tierod menggunakan besi yang kecil atau tierod tidak di kunci dengan baik maka kemungkinan bentuk kolom tidak akan simetris karena terjadi pergerakan sewaktu pengecoran.
Sumber : Ilmuproyek.com

Sumber : Ilmuproyek.com

8. Sponengan 
Jika kalian melihat plesteran atau acian pada sudut bagian bangunan seperti sudut balok,kolom,dinding, sudut siku yang sangat baik dan rapi pada pinggiran itulah yang disebut dengan sponengan. Pembuatan sponengan terbilang sulit karena sudut yang dibuat haruslah 90 derajat dan sangat rapi sehingga cukup memakan waktu yang lama untuk membuat sponengan.

9. Openingan 
Openingan adalah bukaan pada dinding yang akan dipasangkan pintu maupun jendela. Basicly Sponengan dan openingan hampir sama, karena sama-sama membentuk sudut pada pinggiran menjadi sudut siku tetapi openingan jauh lebih banyak memakan waktu karena sudut yang dibuat cukup banyak. oleh karena itu, pekerjaan ini biasanya dihitung borongan per openingan. 

10. Kepalaan
Kepalaan adalah istilah untuk acuan plesteran yang akan dikerjakan. Jadi sebelum melakukan plesteran, seorang tukang akan membuat kepala plesteran terlebih dahulu. Bentuknya memanjang vertikal dengan ukuran 5 cm dan tebal sesuai ketebalan plesteran yang diinginkan.  Fungsi dari kepala plester agar memudahkan tukang sewaktu menggunakan jidar plesteran dinding. 
sumber : Google.com

11. Jidar 
Jidar adalah alat bantu yang digunakan untuk pekerjaan plesteran maupun acian pada dinding. Jidar bisa menggunakan alumunium hollow karena memiliki permukaan yang lebih licin,halus, dan rapi. Jidar digunakan untuk meratakan plesteran maupun acian. 
Sumber : Mortartigaroda.com

Sumber : Google.com

12. Kamprot 
Kamprot adalah istilah yang digunakan untuk plesteran kasar atau plesteran awal. Pekerjaan ini biasanya digunakan pada plesteran yang memiliki ketebalan lebih dari dari 2 cm. Sebelum diplester baiknya dikamprot terlebih dahulu sampai 1 cm dengan cara adukan semen pasir dilemparkan ke arah dinding. Setelah kering, kemudian baru diplester halus.

13. Sparingan 
Sparingan adalah sistem pemipaan listrik maupun air yang dipasang didalam beton. Pipa listrik tersebut digunakan sebagai cover kabel listrik. Sistem pemasangan sparing listrik biasanya sebelum pengecoran jika ingin ditanamkan didalam beton. 
Sumber : Ilmuproyek.com

Sumber : Ilmuproyek.com

14. Relat
Relat adalah tumpuan yang digunakan untuk proses perataan pengecoran plat basement. Tujuannya adalah agar hasil pengecoran bisa datar karena finishing terakhir adalah floorhardener atau lantai kasar. Relat biasanya menggunakan pipa besi yang dipasang sesuai dengan tinggi rencana cor plat. Fungsi relat ini sama dengan kepala plesteran, hanya saja relat digunakan untuk pengecoran. 
Sumber : Google.com

15. Sipatan
Sipatan merupakan bahasa pengukuran yang digunakan untuk memberi tanda pada bangunan dengan level tertentu. Biasanya untuk menentukan pinjaman 1 meter pada kolom. Pekerjaan sipatan bisa menggunakan alat waterpass kemudian diberi tanda atau marking menggunakan benang yang diberi tinta hitam.
sumber : ilmuproyek.com

16. Opname
Opname adalah istilah yang digunakan untuk proses permohonan pembayaran upah atau termin sesuai dengan progres lapangan. Biasanya diajukan oleh mandor atau subkon kepada main kontraktor. 

17. Shaft
Shaft adalah sebuat lubang pada plat beton berbentuk persegi panjang yang berfungsi untuk jalur perpipaan misalnya pipa air bersih, air kotor, pipa pemadam kebakaran, pipa air hujan dan sebagainya. Pekerjaan ini baiknya dilakukan pada saat pekerjaan struktur yaitu dengan memblockout persegi panjang pada plat lantai yang akan dicor. 


Demikian itulah beberapa istilah - istilah yang akan kalian temukan dan gunakan pada dunia konstruksi khususnya dilapangan. Pelajarilah istilah ini agar kalian bisa mengerti atau nyambung dengan pembicaraan para sesepuh dilapangan ya!! 

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Popular Posts

  • Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)
    Sumber : Google.com Beton terkenal karena kekuatannya dalam menahan gaya tekan. Kuat tekan beton merupakan parameter dari mutu/kualitas beto...
  • Mahasiswa Teknik Sipil Wajib Baca!! Istilah Proyek di Lapangan
    Sebelumnya saya senang mengucapkan selamat karena kamu sangat beruntung jika kamu adalah seorang mahasiswa teknik sipil yang sedang membaca ...
  • Membuat Laporan Harian, Mingguan, Bulanan
    Apa sih itu Laporan Harian, Laporan Mingguan, dan Laporan Bulanan? dan Bagaimana sih cara membuatnya? Bisa jadi inilah pertanyaan yan...
  • CARA MENENTUKAN TIPE RUMAH
    Apa sih maksudnya TIPE RUMAH 21, 36, 45, 54 dll ? seringkali para developer menawarkan jasa pembuatan rumah ataupun menjual rumah dengan me...

Follow Kami

  • Follow on Twitter
  • Like on Facebook
  • Subscribe on Youtube
  • Follow on Instagram

HALAMAN

  • Home
  • About Me

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  Agustus (2)
      • APA ITU RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)
      • Jenis - Jenis Fisher dan Fungsinya
  • ►  2024 (12)
    • ►  November (11)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2021 (11)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (15)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2018 (17)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (11)
  • ►  2017 (16)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (6)
  • ►  2016 (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)

Laporkan Penyalahgunaan

Pengikut Blog

Daftar Pengunjung Blog

MOTTO PENULIS

Sebanyak apapun Ilmu yang anda miliki, itu tidak akan berguna jika hanya untuk DIRI SENDIRI - Admin

Copyright © Ilmu Dasar Teknik Sipil | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates