Ilmu Dasar Teknik Sipil
  • HOME
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy policy
  • terms of service
  • Home
  • Struktur
    • GEDUNG
    • JEMBATAN
    • JALAN
    • BANGUNAN AIR
  • BAHAN
    • BETON
    • BAJA
    • KAYU
  • PROGRAM
    • SAP 2000
    • AUTOCAD
    • HEC RAS
    • PLAXIS
    • MICROSOFT PROJECT
  • TEKNIK FONDASI
    • FONDASI RUMAH
    • FOOTPLATE
    • BORPILE
  • LAINNYA
    • TEKNIK GEMPA
    • GEOTEKNIK
    • MANAJEMEN
    • MEKANIKA TANAH
  • Daftar Isi

Kamis, 30 Maret 2017

Jenis Agregat dan Batuan

 Jefri Harjawinata     Maret 30, 2017     Agregat, Bahan, Batuan, Jenis agregat, jenis batuan     No comments   

hallo gan, sedang cari info tentang agregat ya ? nah disini saya menyediakan sedikit penjelasan tentang agregat dan batuan, siapa tau aja bisa bantu bro/sist sekalian untuk mengerjakan tugas kuliah (mungkin) 😂 atau mungkin untuk nambah - nambah pengetahuan tapi disini tidak jualan batu akik ya 😝

AGREGAT
Kandungan agregat dalam campuran beton sangat tinggi. Komposisi agregat berkisar antara 60%-70% dari berat campuran beton. Walaupun fungsinya hanya sebagai pengisi tetapi karena komposisinya yang cukup besar sehingga agregat inipun menjadi penting.
Agregat yang digunakan dalam campuran beton dapat berupa agregat alam atau agregat buatan (artificial aggregates). Secara umum, agregat dapat dibedakan berdasarkan ukuran yaitu agregat kasar dan agregat halus. Batasan ukuran antara agregat halus dan agregat kasar yaitu 4.80mm( British Standard) atau 4.75mm ( Standar ASTM). Agregat kasar adalah batuan yang ukuran butirnya lebih besar dari 4.80mm(4.75mm) dan agregat halus adalah batuan yang ukuran butirnya tidak lebih besar dari 4.80mm(4.75mm).
Agregat yang digunakan dalam campuran beton biasanya berukuran lebih kecil dari 40mm. Agregat yang ukurannya lebih besar dari 40mm digunakan untuk pekerjaan sipil lainnya, misalnya untuk pekerjaan jalan, tanggul penahan tanah,bendungan dan lainnya. Agregat halus biasanya dinamakan pasir dan agregat kasar dinamakan kerikil, spilit, batu pecah, kricak, dll.

BATUAN
Seorang insinyur sipil biasanya melihat batuan sebagai sebuah mineral yang keras, getas, sering kali tahan lama dan kuat, yang diatasnya dapat berdiri bangunan atau digunakan untuk mendirikan bangunan. Batuan dalam penggunaannya dipekerjaan teknik sipil, dapat dibedakan menjadi dua jika dilihat dari ilmu yang mempelajarinya.
  1. Geologis : batuan sebagai mineral, yang terbentuk melalui proses terbentuknya batuan. 
  2. Geoteknik : batuan sebagai mineral yang diatasnya, didalamnya, atau denganya dapat dibangun berbagai konstruksi.
Jika dilihat dari proses terbentuknya, batuan sebagai mineral dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, batuan beku (magma), batuan endapan (sedimentasi), batuan peralihan (metamorph). Tidak ada yang terbentuk karena digosok gerinda ya ?? 😎 (Emangnya akik 😵)
Batuan Beku (Magma)
Batuan magma atau batuan beku terbentuk dari proses pembekuan magma yang terdapat didalam lapisan bumi yang dalam atau dari hasil pembekuan magma yang keluar akibat letusan gunung merapi.
Batuan Sedimen
Batuan sedimen atau batuan endapan terbentuk karena mengendapnya bahan-bahan terurai, sehingga membentuk suatu lapisan endapan bahan padat yang secara fisik diendapkan oleh angin,air,atau es. Batuan sedimen dapat juga terbentuk dari bahan-bahan terlarut yang secara kimia terendapkan dilautan,sungai, danau.
Batuan Metamorf
Batuan metamorf terjadi karena proses metamorfosis, yaitu perubahan yang dialami oleh batuan karena perubahan temperatur dan tekanan. Pada umumnya peningkatan temperatur dan tekanan akan mempengaruhi besar butiran yang terbentuk.

Agregat di Indonesia
Indonesia mempunyai geografi, geologi, dan iklim panas dan basah yang berganti sepanjang tahun. Hal tersebut membuat batu-batuannya mengalami pelapukan dengan derajat yang bergantung pada jenis batu-batuan, iklim, derajat erosi, exposure, dan lainnya. Aspek-aspek yang mempengaruhi pelapukan batuan ini akan mempengaruhi produksi beton. Batuan di Indonesia umumnya terdiri dari igneous vulkanis yang muda seperti basalt,dolomit,andesit, porhyries,tuff,ashes,lebih dalam lagi dapat ditemukan granite dan batu-batuan sedimen dilaut, yaitu sandstone, limestone, dan malstone. Batu-batuan seperti ini biasanya didapat pada lipatan dan patahan pada gugusan atau pegunungan.
Karakteristik Agregat
Jika dilihat dari sumbernya, agregat dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu agregat yang berasal dari alam dan agregat buatan. Contoh agregat yang berasal dari sumber alam adalah pasir alami dan kerikil, sedangkan contoh agregat buatan adalah agregat yang berasal dari stone crusher, hasil residu terak tanur tinggi,pecahan genteng, pecahan beton, fly ash dari residu PLTU, extended shale, expanded slag dan lainnya.
Pasir sungai dan batu-batuan yang digali
Pasir yang digunakan dalam campuran beton jika dilihat dari sumbernya dapat berasal dari sungai atau galian tambang (quarry). Agregat yang berasal dari tanah galian biasanya berbentuk tajam, bersudut, berpori dan bebas dari kandungan garam. 
Mengolah Agregat Alam
Tujuan utama pengolahan agregat adalah untuk mendapatkan agregat dengan mutu tinggi dengan biaya yang rendah. Pengolahan agregat alam meliputi penggalian(excavating), pengangkutan(hauling), pencucian, pemecahan (crushing), dan penentuan ukuran.
Pada waktu penggalian bahan-bahan yang akan menambah berat seperti lempung dan lanau harus disingkirkan karena bahan-bahan tersebut tidak dikehendaki. Pemisahan bahan yang tidak dikehendaki tersebut dapat dilakukan dengan alat power-shovels,draglines, atau scrapers. Bila bahan-bahan ini tidak terlalu banyak jumlahnya, cukup dilakukan pencucian yaitu dengan dilewatkan pada saluran buatan dan agregat tersebut akan disemprot dengan air. Proses  Kemudian agregat diperkecil ukurannya dengan menggunakan alat pemecah batu. Alat pemecah batu yang paling tua disebut Jaw Crusher yang terdiri dari sebuah rahang yang bergerak dan satunya tetap.
Untuk menentukan ukuran dari agregat, agregat kasar disaring menggunakan saringan bergetar sedangkan agregat halus disaring dengan menggunakan saringan hidrolik. Saringan tersebut memiliki perbedaan dalam pembuatannya, kapasitas, serta efisiensinya.
Jenis Agregat
Seperti yang diuraikan diatas, agregat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu agregat alam dan agregat buatan. Agregat alam dan buatan inipun dapat dibedakan berdasarkan beratnya, asalnya, diameter butirnya(gradasi), dan tekstur permukaannya.

Jenis Agregat Berdasarkan Berat
Agregat dapat dibedakan berdasarkan beratnya. Ada tiga jenis agregat berdasarkan beratnya, yaitu agregat normal,agregat ringan dan agregat berat. Peraturan beton 1989 mencakup agregat normal dan agregat ringan.
Jenis Agregat Berdasarkan Bentuk
Bentuk agregat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara alamiah bentuk agregat dipengaruhi oleh proses geologi batua. Setelah dilakukan penambangan, bentuk agregat dipengaruhi oleh cara peledakan dan mesin pemecah batu dan teknik yang digunakan. Klasifikasi agregat berdasarkan bentuknya adalah sebagai berikut.
a.       Agregat Bulat
b.      Agregat Bulat sebagian atau Tidak Teratur
c.       Agregat bersudut
d.      Agregat Panjang
e.       Agregat Pipih
f.       Agregat Pipih dan Panjang
sumber : Internet

Jenis Agregat Berdasarkan Tekstur Permukaan
Umumnya agregat dibedakan menjadi kasar, agak kasar, licin, agak licin. Berdasarkan pemeriksaan visual, tekstur agregat dapat dibedakan menjadi sangat halus (glassy), halus, granular, kasar, berkristal(crytalline), berpori, dan berlubang-lubang. Permukaan yang kasar akan menghasilkan ikatan yang lebih baik jika dibandingkan dengan permukaan agregat yang licin. Secara umum susunan permukaan ini sangat berpengaruh pada kemudahan pekerjaan. Semakin licin permukaan ini sangat berpengaruh pada kemudahan pekerjaan. Semakin licin permukaan agregat maka semakin sulit pekerjaan beton. Umumnya jenis agregat dengan permukaan kasar lebih di sukai. Jenis agregat berdasarkan tekstur permukaannya dapat dibedakan sebagai berikut :

Ø  Agregat licin/halus(glassy)
Ø  Berbutir (granular)
Ø  Kasar
Ø  Kristalin (cristalline)
Ø  Berbentuk Sarang Labah (honeycombs)

Sifat-sifat Agregat dalam Campuran Beton
Sifat-sifat agregat sangat berpengaruh pada mutu campuran beton. Untuk menghasilkan kekuatan beton yang diinginkan maka sifat-sifat ini perlu dipelajari agar dapat mengambil tindakan positif apabila terjadi masalah.
Serapan Air dan Kadar Air Agregat
Pada saat terbentuknya agregat kemungkinan ada terjadinya udara yang terjebak dalam lapisan atau terjadi karena dekomposisi mineral pembentuk akibat perbuhan cuaca, maka terbentuklah lubang atau rongga kecil didalam butiran agregat (pori). Pori didalam agregat mempunyai bentuk yang bervariasa dan pori-pori mungkin menjadi reservoir air bebas di dalam agregat. Presentase berat air yang mampu diserap agregat didalam air disebut sebagai serapan air, sedangka banyaknya air yang terkandung dalam agregat disebut kadar air.
Agregat Jenis Lain dan untuk Hal-hal Khusus
1.      Agregat Jenis lainnya
Ø  Batu pecah
Ø  Pecahan bata atau genteng
Ø  Tanah liat bakar
Ø  Herculite atau haydite
Ø  Agregat abu terbang
Ø  Benda limbah padat buangan

2.      Agregat untuk hal-hal khusus
Untuk bahan yang harus kuat dan awet, agregat yang digunakan adalah corondum sintetik (Al2O3) dengan berat isi murni 3.9-4.0 kg/dm³ atau silicone carbide dengan berat murni 3.1-3.2 kg/dm³. Selain itu dapat juga menggunakan jenis agregat lain yang keras seperti batu alam misalnya basalt, terak tanur tinggi, jenis-jenis logam.
Agregat yang sangat ringan untuk isolasi terhadap panas atau yang tahan api adalah perlit, sejenis gelas dari batuan beku (vulkanik) dengan berat isi sekitar 0.6-0.2 kg/dm³, vermiculit dengan berat isi massa sekitar 0.07-0.09 kg/dm³ dan foamglass.
Agregat yang digunakan sebagai pelindung radiasi adalah jenis batuan dengan berat isi murni yang tinggi spar yang memiliki berat isi murni 4.15-4.45 kg/dm³, magnet, biji besi dengan berat isi murni 4.40-5.00 kg/dm³ dan baja (dapat berbentuk pasir atau sebagai butiran-butiran) dengan berat isi murni 6.80-7.60 kg/dm³.

oke sekian dari penjelasan batu akiknya 😜 kalau bro/sist mau tempe lebih banyak, bisa cek diartikel yang lain ya !! atau kalau tidak ada artikelnya yang diinginkan, boleh tinggalkan komentarnya ya ? nanti kalau sempat dan bisa, akan saya jawab. tapi kalau saya juga tidak tahu, kita coba tanya ke mbah google 





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Rabu, 29 Maret 2017

Asphalt Mixing Plant Jenis Takaran

 Jefri Harjawinata     Maret 29, 2017     Alat AMP, Alat Ringan & Alat Berat, Asphalt Mixing Plant     No comments   

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang jenis - jenis AMP, maka pada artikel ini kita akan mencoba membahas tentang aspalt mixing plant jenis takaran. 
Pada AMP jenis takaran agregat digabungkan, dipanaskan dan dikeringkan serta secara proporsional dicampur dengan aspal untuk memproduksi campuran beraspal panas. AMP dapat berukuran kecil atau besar tergantung dari kuantitas campuran yang dihasilkannya, disamping itu ditinjau dari mobilitasnya, pada umumnya AMP jenis takaran dapat digolongkan atas :
a)      AMP yang permanen
b)      AMP yang mudah di pindah-pindah dan dapat dipasang di dekat lokasi proyek.
Kapasitas AMP bervariasi dan umumnya berkisar dari 500 kg sampai 1200 kg per batch atau lebih besar. Proses pencampuran untuk masing-masing batch sekitar 40 menit. Untuk jalan-jalan dengan lalu-lintas padat dan berat disarankan menggunakan kapasitas AMP yang lebih besar dari 800 kg per batch.
Beberapa keunggulan dari penggunaan kapasitas 800 kg per batch atau lebih adalah sebagai berikut :
·       Penggunaan kapasitas yang besar akan membantu menghasilkan campuran yang relatif seragam dan mengurangi faktor ketidakpastian.
·  Kapasitas yang lebih besar relatif lebih menjamin kelancaran pasokan campuran beraspal ke unit penghampar. Pasokan yang tidak lancar pada unit penghampar dapat mengakibatkan permukaan jalan tidak rata dan kepadatan tidak tercapai, karena campuran di bawah alat penghampar telah dingin sehingga pada bagian tersebut sulit diratakan dan dipadatkan.
·  Kapasitas yang besar akan mempercepat penyelesaian pekerjaan, yang berarti mengurangi gangguan terhadap kelancaran lalu-lintas. Pada jalan-jalan utama gangguan akibat adanya pekerjaan pelapisan ulang sangat besar pengaruhnya.

· Proses produksi campuran beraspal panas dengan menggunakan AMP jenis takaranseperti diperlihatkan pada Gambar 4 dimulai dari memasok agregat dingin dari bin dingin dengan jumlah terkontrol, kemudian dipanaskan dan dikeringkan melalui pengering (dryer). Selanjutnya agregat disaring dengan unit saringan panas (hot screen) yang akan memisahkan agregat berdasarkan ukuran fraksinya lalu dimasukkan ke dalam bin panas. Masing-masing agregat dari bin panas ditimbang sesuai proporsi yang diinginkan. Bila diperlukan, bahan pengisi (filler) ditambahkan melalui pemasok bahan pengisi.Selanjutnya dicampur kering dalam pencampur.Aspal dengan jumlah terkontrol ditambahkan setelah pencampuran kering.Bila pencampuran agregat dengan aspal telah homogen, campuran selanjutnya dituangkan ke dalam truk pengangkut dan dibawa ke tempat penghamparan.
Gambar skema pengoperasian

2.1. Bin dingin
Bin dingin (cold bin) adalah bak tempat menampung material agregat dari tiap-tiap fraksi mulai dari agregat halus sampai agregat kasar yang diperlukan dalam memproduksi campuran aspal panas (hot mix).Bagian pertama dari AMP adalah bin dingin, yaitu tempat penyimpanan fraksi agregat kasar, agregat sedang, agregat halus dan pasir. Bin dingin harus terdiri dari minimum 3 sampai 5 bak penampung (bin). Masing-masing bin berisi agregat dengan gradasi tertentu. Agregat-agregat tersebut harus terpisah satu sama lain, untuk menjaga keaslian gradasi dari masing masing bin sesuai dengan rencana gradasi pada formula campuran kerja (FCK/JMF ). Untuk memisahkannya, dapat dipasang pelat baja pemisah antar bin. Dengan demikian maka loader (alat pengangkut) yang digunakan mengisi masing-masing bin harus mempunyai bak (bucket) yang lebih kecil dari mulut pemisah masing-masing bin. Jika pemisah tidak ada maka pengisian masing-masing bin tidak boleh berlebih yang dapat berakibat tercampurnya agregat.
Penyimpangan gradasi agregat di bin dingin baik itu karena tercampurnya agregat pada masing-masing bin atau kalibrasi bukaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan kesulitan pengaturan gradasi di bin panas. Kemungkinan salah satu bin panas pengisian agregat relatif lebih lama dibanding dengan bin lainnya. Akibatnya waktu produksi menjadi lama dan selama menunggu terisinya bin tersebut, terjadi pelimpahan material (overflow) pada bin panas lainnya.
Jenis bin dingin yang umum dikenal adalah : (1) ban berjalan menerus, (2) getar, dan (3) aliran. Tipikal masing-masing jenis bin dingin tersebut diperlihatkan pada Gambar 5. Jenis pertama (continuous) cocok untuk agregat halus, sedangkan yang lainnya cocok untuk agregat kasar.
Gambar 5. Jenis bin dingin

2.1.1 Pintu pengeluar agregat pada bin dingin
Pintu pengeluaran agregat pada bin dingin (cold feed gate) dipasang di bagian bawah dari bin dingin, lubang pintu ini dilengkapi dengan skala yang angkanya menunjukkan besarnya lubang bukaan yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan. Besarnya bukaan pintu pada setiap bin dingin yang telah berisi agregat dan siap untuk digunakan dalam pencampuran, harus dikalibrasi terlebih dahulu pada setiap kondisi dan jenis agregat yang akan digunakan. Kelancaran pasokan agregat ke bin panas dapat terganggu jika pintu pengeluaran bin dingin tersumbat oleh batu atau lainnya. Untuk menjaga kelancaran pasokan dari bin dingin, biasanya ada personil khusus yang mengawasi kelancaran pasokan tersebut. Pada musim hujan, jika agregat halus tidak dilindungi terhadap hujan, dapat juga menyebabkan penyumbatan pintu pasokan akibat menggumpalnya agregat halus di pintu pengeluaran/pasokan.


2.1.2 Sistim pemasok agregat dingin
Sistim pemasok agregat dingin dipasang pada empat atau lebih bin dingin, melalui bukaan atau pintu yang dapat diatur, agregat dingin diangkut melalui reciprocating feeder dan atau ban berjalan (belt conveyor) dan diteruskan menggunakan elevator dingin (cold elevator) menuju ke drum pengering, tipikal sistim pemasok agregat dingin diperlihatkan pada Gambar 6.

Gambar .6. Tipikal pemasokan agregat dari bin dingin

Kesinambungan aliran material dari bin dingin ini sangat berpengaruh terhadap produksi campuran beraspal, untuk itu perlu pengendalian mutu yang ketat pada bin dingin salah satu penyimpangan yang sering terjadi pada bin dingin adalah tidak dipasangnya pembatas antara mulut pasokan agregat pada bin dingin sehingga agregat dari bin dingin yang satu bercampur dengan agregat dari bin dingin lainnya. Faktor–faktor yang harus mendapat perhatian pada bin dingin (cold bin) adalah 
  • Tidak ada perubahan gradasi agregat. Perubahan gradasi dapat disebabkan karena perbedaan quari atau suplier. Jika terjadi perubahan gradasi agregat maka harus dilakukan pembuatan FCK (JMF) kembali.
  • Agregat tidak tercampur. Pencampuran agregat antar bin yang berdekatan dapat dicegah dengan membuat pemisah yang cukup dan pengisian tidak berlebih.
  • Bukaan bin dingin dikalibrasi secara periodik.
  • Tidak ada penghalang pada bukaan bin dingin. Bukaan bin dingin agregat halus kadang-kadang tersumbat jika agregat halus basah, agregat terkontaminasi tanah lempung, atau penghalang lain yang tidak umum seperti batu dan kayu.
  • Tidak terjadi perubahan kecepatan conveyor dan ada operator yang mengontrol aliran agregat untuk membuang material yang tidak perlu.


2.2 Pengering (Dryer)
Dari bin dingin agregat dibawa melalui elevator dingin dinaikkan ke dalam pengering (dryer) untuk dipanaskan dan dikeringkan pada temperatur yang diminta Pengering ini berbentuk silinder dengan panjang dan diameter tertentu berdasarkan kapasitas maksimum produksi yang direncanakan per jamnya.
Pengering mempunyai fungsi: (1) menghilangkan kandungan air pada agregat; dan (2) memanaskan agregat sampai temperatur yang disyaratkan. Komponen yang terdapat pada sistim pengering adalah:
·         Silinder berputar (pengering) yang umumnya berdiameter 91 cm sampai 305 cm dan panjang 610 cm sampai 1219 cm.
·         Ketel pembakar (burner) yang berisi gas atau minyak bakar untuk menyalakan pemanas.
·         Kipas (fan) sebagai bagian dari system pengumpul debu dan mempunyai fungsi utama untuk memberikan udara atau oksigen dalam sistim pemanas.


Gambar 7. Pengering pada drum pengering AMP jenis takaran

Pada sistim pengering dipasang serangkaian baris sudu-sudu yang terbuat dari pelat logam cekung yang dilas dalam bentuk yang bervariasi dan melekat pada permukaan di bagian dalam silinder tersebut.Sudu-sudu ini (flight cup) digunakan untuk mengangkat dan menjatuhkan agregat sehingga pengeringan agregat menjadi merata.Tipikal sudu-sudu (flight up) diperlihatkan pada Gambar 8. Bentuk pengering, kecepatan putaran, diameter , panjang, jumlah dan disain dari sudusudu (flight cup) mempengaruhi lamanya waktu yang diperlukan untuk proses pengeringan di dalam sistim pengering agregat. Oleh karena itu jumlah, bentuk dan susunan sudu-sudu harus diperhatikan untuk efisiensi pengeringan.Selanjutnya agregat yang telah dikeringkan dialirkan menuju elevator panas (hotelevator) melalui pintu pengeluar yang terdapat pada ujung alat pengering.

Gambar 8. Tipikal sudu-sudu pada pengering

Pada unit pengering (dryer) perlu diperhatikan beberapa faktor agar diperoleh campuran beraspal yang memenuhi syarat, yaitu antara lain :
·         Kalibrasi alat pengukur temperatur dan pemeriksaan temperatur pemanasan. Perubahan kuantitas agregat yang masuk ke unit pengering akibat dari pengaturan bukaan bin dingin dapat menyebabkan pemanasan berlebih (jumlah agregat yang masuk berkurang sementara panas pembakar tetap).
·         Pembakaran harus sempurna, hal ini dapat diindikasikan dari warna asap yang keluar dari cerobong asap adalah putih dan nyala api pembakaran berwarna biru. Warna asap yang hitam menandakan pembakaran tidak sempurna. Contoh dari akibat pembakaran yang tidak sempurna adalah, pada saat pengambilan agregat dari hot bin, agregat terlihat berwarna hitam terselimuti jelaga. Akibat dari hal tersebut aspal tidak dapat masuk ke pori-pori agregat dan juga tidak dapat melekat dengan baik ke agregat.
·         Kadar air pada agregat harus seminimum mungkin, oleh karena itu lakukan pemeriksaan kadar air secara cepat; ambil contoh secukupnya, kemudian lewatkan cermin yang kering, atau spatula diatas agregat tersebut. Amati jumlah kadar air yang mengembun pada permukaan cermin atau spatula. Agregat yang masih mengandung kadar air akan menghalangi melekatnya aspal ke agregat, sehingga campuran beraspal berprilaku seolah-olah kelebihan aspal.

2.3 Pengumpul debu (dust collector)
Alat pengumpul debu (dust collector) harus berfungsi sebagai alat pengontrol polusi udara di lingkungan lokasi AMP. Gas buang yang keluar dari sistim pengering ditambah dengan dorongan kipas pengeluar (exhaust fan) akan dialirkan ke pengumpul debu. Alat pengumpul debu yang tidak berfungsi dengan baik akan menyebabkan terjadinya polusi udara, dan ini terlihat jelas dari adanya kotoran atau debu di pohon-pohon atau atap rumah di sekitar lokasi AMP. Secara umum terdapat beberapa jenis kombinasi sistim pengumpul debu, antara lain :
·         Sistim pengumpul debu jenis kering (dry cyclone dust collector), debu yang terbawa gas buangan diputar, sehingga partikel berat ke bagian bawah dan gas yang telah bersih keluar dari cerobong asap. Partikel berat selanjutnya dikembalikan ke bin panas (hot bin) melalui sistim pengatur udara (air lock damper).
·         Sistim pengumpul debu jenis basah (wet scrubber dust collector), debu yang terbawa gas buangan disemprot dengan air, sehingga partikel berat akan terjatuh ke bawah dan gas yang telah bersih keluar dari cerobong asap. Partikel berat tersebut kemudian dialirkan ke bak penampung (bak air). Jika pada bak air penampung terlihat jelaga yang mengambang dengan jumlah yang cukup banyak, maka hal ini menunjukkan terjadi pembakaran yang tidak sempurna pada pengering (dryer). Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan maka segera lakukan koreksi atau perbaikan pada pengering (dryer).
·         Tipikal dari kedua jenis pengumpul debu diperlihatkan pada Gambar 9. Muatan udara yang mengandung partikel debu, asap dan gas harus dikontrol sampai ambang batas yang telah ditentukan sesuai dengan peraturan yang berlaku mengenai dampak lingkungan.
 
Jenis basah (wet scrubber dust collector)
Jenis kering (dry cyclone dust collector)    

Gambar 9. Tipikal jenis-jenis pengumpul debu Lubang

2.4 Unit ayakan panas (hot screening unit)
Kebanyakan AMP menggunakan unit ayakan panas (hot screening unit) jenis mendatar dengan sistim penggetar yang umumnya terdiri dari empat susunan. Agregat yang telah dikeringkan dan dipanaskan diangkut dengan mangkok elevator panas (hot elevator bucket) untuk disaring dengan susunan unit ayakan panas dan dipisahkan dalam beberapa ukuran yang selanjutnya dikirim ke bin panas (hot bin). Tipikal unit ayakan panas diperlihatkan pada Gambar II.10. Umumnya pada proses penyaringan terjadi pelimpahan agregat, misalnya yang semestinya masuk ke bin panas I tetapi terbawa ke bin panas II. Pelimpahan ini pada kondisi normal terjadi kurang dari 5 % dan cenderung konstan sehingga tidak terlalu mengganggu kualitas produksi. Akan tetapi presentase tersebut dapat bertambah jika : lubang saringan tertutup agregat, kecepatan produksi ditambah sehingga agregat yang disaring bertambah sementara efisiensi operasi penyaringan tetap, agregat halus basah sehingga pada saat pengeringan dan pemanasan agregat halus tersebut akanmenggumpal dan masuk ke hot bin yang tidak semestinya. Kemungkinan lain adalah lubang-lubang pada saringan sudah ada yang rusak, sehingga beberapa agregat masuk ke bin panas yang tidak semestinya.
Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan gradasi dan kadar aspal secara serius. Unit bagian atas dari susunan ayakan merupakan penutup dari dek dan merupakan saringan pertama yang biasa disebut pemisah (scalping). Pada susunan unit ayakan dengan ukuran lubang terbesar berfungsi membuang agregat yang mempunyai diameter yang lebih besar dari ukuran agregat Universitas Sumatera Utara
maksimum yang diminta (oversize) agar tidak masuk ke bin panas (hot bin) dan membuangnya pada pintu pembuang.

Gambar II.10. Tipikal unit ayakan panas

Pemasangan saringan pada unit ayakan panas harus tidak pada ukuran yang berdekatan. Contoh susunan ayakan untuk campuran beraspal dengan ukuran butir agregat maksimum 19 mm adalah :
·         Saringan pertama / teratas berukuran 19 mm, butir agregat yang ukurannya lebih besar (oversize) dibuang ke saluran pembuang
·         Saringan ke-dua berukuran 12,5 mm (1/2 inchi). Ukuran butir agregat antara 19 mm sampai 12,5 mm masuk ke bin 1
·         Saringan ke-tiga berukuran 4,75 mm (No. 4). Ukuran butir agregat antara 9,5 sampai dengan 4,75 mm masuk ke bin 2.
·         Saringan ke-empat berukuran 2,36 mm (No. 8). Ukuran butir agregat antara 4,75 sampai dengan 2,36 mm masuk ke bin 3. Sementara agregat yang lolos saringan 2,36 mm masuk ke bin 4.
Unit ayakan panas harus dibersihkan dan diperiksa setiap hari untuk menghindarkan dari kemungkinan rusak atau robek.

2.5 Bin panas (hot bin)
Bin panas (hot bin) dipasang pada AMP jenis takaran (batch). Pada AMP jenis takaran umumnya akan terdapat 4 bin yang dilengkapi dengan pembatas yang rapat dan kuat dan tidak boleh berlubang serta mempunyai tinggi yang tepat sehingga mampu menampung agregat panas dalam berbagai ukuran fraksi yang telah dipisah-pisahkan melalui unit ayakan panas.Pada bagian bawah dari tiap bin panas harus dipasang saluran pipa untuk membuangagregat yang berlebih dari tiap bin panas yang dapat dioperasikan secara manual atauotomatis.Jika agregat halus masih menyisakan kadar air (pengering kurang baik) setelah pemanasan, maka agregat yang sangat halus (debu) akan menempel dan menggumpalpada dingding bin panas dan akan jatuh setelah cukup berat. Hal tersebut dapatmenyebabkan perubahan gradasi agregat, yaitu penambahan material yang lolos saringan No. 200
2.6 Sistim pemasok bahan pengisi (filler elevator)
Bahan pengisi (filler) sangat sensitif untuk mengeras karena pengaruh kadar air, oleh karena itu diperlukan wadah khusus (silo) agar bahan pengisi bebas dari pengaruh air. Umumnya bahan pengisi dimasukkan ke dalam AMP melalui penimbang yang biasa disediakan untuk menimbang agregat panas, namun terdapat juga AMP yang menyediakan penimbang khusus untuk bahan pengisi.Terdapat dua sistim untuk memasok bahan pengisi ke dalam AMP yaitu sistim pneumatik dan mekanik. Untuk sistim pneumatik, bahan pengisi dimasukkan ke dalam pencampur dengan cara pengaliran seperti bahan cair, sedangkan untuk sistim makanik bahan pengisi dari silo dimasukkan ke dalam pencampur dengan menggunakan wadahwadah yang dirangkai dengan ban berjalan sehingga merupakan elevator bahan pengisi. Karena pengaruh bahan pengisi dalam campuran cukup besar, maka diperlukan pemeriksaan secara berkala. Penambahan bahan pengisi akan menyebabkan campuran menjadi lebih kaku (stiff), akan tetapi penambahan yang terlalu banyak akan berpengaruh negatif, yaitu lapisan beraspal menjadi getas dan mudah retak.
2.7 Tangki aspal (asphalt storage)
Tangki aspal pada AMP harus cukup besar sehingga dapat menampung aspal yang memenuhi kebutuhan aspal saat AMP dioperasikan, dan aspal yang terdapat di dalamnya dapat dengan mudah terlihat.Pada beberapa AMP terdapat beberapa tangki aspal yang saling berhubungan satu dengan lainnya.Tangki pertama mempunyai fungsi menampung aspal yang baru datang dari pemasok, dan tangki lainnya mempunyai fungsi untuk menampung aspal yang telah dipanaskan dan siap untuk ditimbang dan dimasukkan ke dalam pencampur (mixer/pugmill). Setiap tangki harus dilengkapi dengan sebuah alat sensor thermometric yang telah dikalibrasi sehingga temperatur aspal dari tiap tangki akan terkontrol.
Aspal harus cukup cair untuk dapat dialirkan dengan baik, oleh karena itu diperlukan penangas aspal. Terdapat beberapa jenis penangas aspal di dalam tangki, antara lain dengan sistim sirkulasi uap panas atau sirkulasi oli panas di dalam tangki aspal atau dapat juga dengan sistim elektrik.
Pada sirkulasi aspal terdapat dua jenis pipa, yaitu pipa pemasok yang berfungsi mengalirkan aspal panas untuk ditimbang dan pipa pengembali yang berfungsi mengalirkan aspal kembali ke dalam tangki.Tangki aspal, pipa pemasok, pipa pengembali, dan timbangan aspal harus mempunyai pelindung panas sehingga dapat menjamin temperatur aspal sesuai dengan yang ditentukan.Pada sirkulasi aspal pipa pengembali harus terletak di bawah pipa pemasok aspal.Untuk mencegah terjadinya kekosongan dalam pipa pengembali aspal, perlu dipasang dua atau tiga buah lubang pada pipa pengembali di atas ambang atas tertinggi aspal dalam tangki.
2.8 Timbangan agregat (aggregate weight hopper)
Pada AMP jenis takaran terdapat dua macam timbangan untuk agregat yaitu timbangan untuk agregat dan timbangan untuk bahan pengisi (filler). Timbangan untuk agregat ditempatkan langsung di bawah bin panas (hot bin). Hasil penimbangan dari agregat langsung ditransmisikan oleh mekanisme timbangan pada skala penunjuk tanpa pegas, sehingga berat agregat tiap bin serta jumlah tiap takaran dapat dibaca.
Pada bagian ini operator AMP sangat berperan. Jika keseimbangan waktu pencapaian berat bin panas sulit tercapai, maka operator harus melakukan pengecekan aliran material mulai dari bin dingin. Akan tetapi jika ketidak seimbangan waktu tersebut dipaksakan terus berjalan, maka dapat dipastikan akan terjadi penyimpangan gradasi sebagai akibat proporsi masing-masing hot bin tidak sesuai. Temperatur agregat juga akan berfluktuasi akibat dari kuantitas aliran agregat pada pengering (dryer) yang tidak stabil.
Urutan penimbangan tiap bin panas harus diamati secara teliti dan sebaiknya penimbangan fraksi agregat kasar didahulukan. Sebelum AMP dioperasikan, skala timbangan dibersihkan, tiap bagian diperiksa dan harus dilakukan kalibrasi timbangan secara periodik oleh instansi berwenang.AMP sebaiknya menggunakan sistim kontrol yang otomatis untuk memperoleh komposisi campuran yang sesuai.
Faktor-faktor penting pada unit timbangan agregat yang perlu mendapat perhatian antara lain sebagai berikut :
- Kalibrasi timbangan.
- Weigh box tergantung bebas.
- Kontrol harian terhadap kinerja operator AMP.
2.9 Timbangan aspal (asphalt weight hopper)
Setelah aspal dipanaskan dalam tangki aspal pada temperatur yang ditentukan berdasarkan tingkat keencerannya, maka aspal panas dialirkan melalui pipa pemasok untuk ditimbang beratnya sesuai dengan yang dibutuhkan sebelum dimasukkan ke dalam pencampur (mixer/pugmill).Gambar skematik aliran aspal dan pengukuran aspal diilustrasikan pada Gambar II.11.Kuantitas aspal yang dialirkan ke dalam pencampur (mixer) harus selalu diamati dan secara berkala timbangannya dikalibrasi, sehingga diperoleh jumlah aspal yang tepat dengan toleransi sesuai dengan spesifikasi.


Gambar II.11. Tipikal penimbangan dan aliran aspal

2.10 Pencampur (mixer atau pugmill)
Setelah aspal, agregat dan bahan pengisi (bila perlu) ditimbang sesuai dengan komposisi yang direncanakan, bahan tersebut dimasukkan ke dalam pencampur (mixer/pugmill). Waktu pencampuran harus sesingkat mungkin untuk mencegah oksidasi yang berlebih namun harus diperoleh penyelimutan yang seragam pada semua butir agregat. Pencampur terdiri dari ruang (chamber) dan poros kembar (twin shaft) yang dilengkapi dengan dengan kayuh atau pedal (paddle). Untuk menghasilkan pengadukan yang baik, pedal harus dalam kondisi baik (tidak aus) dan posisinya sedemikian rupa sehingga ruang bebas (clearance) antara ujung pedal dan dinding ruang pencampuran kurang dari 1,5 kali ukuran maksimum agregat. Pengisian yang terlalu banyak akan menyebabkan hasil pengadukan menjadi kurang sempurna,sementara pengisian terlalu sedikit tidak efisien. Dalam pugmill terjadi dua jenis pencampuran, yaitu pencampuran kering dan pencampuran basah (setelah ditambah aspal).Lamanya pencampuran kering diusahakan sesingkat mungkin untuk meminimalkan degradasi agregat, umumnya 1 atau 2 detik.Pencampuran basah juga diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari degradasi dan oksidasi atau penuaan (aging) dari aspal.Apabila agregat kasar (tertahan saringan No. 8) telah terselimuti aspal maka pencampuran basah dihentikan, karena dapat dipastikan agregat halus juga telah terselimuti aspal.Umumnya waktu pencampuran sekitar 30 detik.
2.11. Tenaga penggerak
Untuk menjalankan semua bagian-bagian atau komponen-komponen AMP sumber tenaga utamanya adalah generator set atau gen set. Pada umumnya genset ini diputar oleh mesin diesel.Kekuatan atau kapasitas genset ini harus cukup untuk melayani kebutuhan motor-motor listrik yang dipakai serta peralatan-peralatan lain yang memakai tenaga listrik dan untuk penerangan.Semua sambungan-sambungan aliran listrik harus tertutup untuk mencegah arus pendek serta untuk keamanan lingkungan.
2.12. Ruang pengendali pengontrol atau ruang pengontrol (control room)
Seluruh kegiatan operasi unit peralatan pencampur aspal panas (AMP) dikendalikan dari ruang pengontrol atau control room ini. Ada 3 cara pengendalian operasi yang dikenal; yaitu cara manual, cara semi otomatis dan cara otomatis. Pada pengendalian operasi cara manual, pengaturan/pengoperasian komponen atau bagian-bagian peralatan pencampur aspal panas (AMP) dilakukan dengan mengatur sakelar atau tombol mengunakan tangan. Yaitu pengaturan pemasokan agregat, aspal, pembakaran pada burner, penimbangan, pencampuran serta pengeluaran campuran dari pencampur atau pugmill.Pengendalian secara semi otomatis, beberapa pengaturan pembukaan dan penimbangan masih dikontrol secara manual, termasuk bukaan pintu pengeluaran pugmill.
Pengendalian operasi secara otomatis, maka semua operasinya sudah diatur secara otomatis dengan sistem komputerisasi, termasuk kontrol apabila ada kesalahankesalahan atau ketidakcocokan dan ketidaklancaran operasi dari satu atau beberapa bagian kegiatan/ operasi, misalnya temperatur agregat panas rendah maka terkontrol pada burnernya, misalnya ditingkatkan pemanasannya. Pada pengendalian operasi secara otomatis harus lebih teliti pengamatan alat-alat ukurnya serta hubungan-hubungan sirkuit dari peralatan pencampur aspal panas (AMP) ke ruang pengendalian, karena besaran-besaran yang sudah diprogram bisa saja bersalahan akibat sirkuit yang terganggu, sehingga kemungkinan produk akhir berada di luar spesifikasi yang sudah dirancang atau diformulasikan sebelumnya

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Selasa, 12 April 2016

Jenis – Jenis Gelombang Gempa

 Jefri Harjawinata     April 12, 2016     ilmu dasar teknik gempa, Kegempaan, Teknik Kegempaan     No comments   

Sumber : Google.com
1.         Gelombang badan atau body wave adalah gelombang yang merambat melalui bagian dalam bumi. Gelombang badan merupakan gelombang yang tiba sebelum gelombang permukaan yang dipancarkan oleh gempa bumi. Gelombang ini memiliki frekuensi yang lebih tinggi daripada gelombang permukaan. Gelombang badan dibedakan menjadi dua, yaitu gelombang primer (P-wave) dan gelombang sekunder (S-wave).
    Gelombang Gempa

    Gelombang Gempa


a)     Gelombang primer merupakan gelombang longitudinal, di mana arah pergerakan partikel akan searah dengan arah rambat gelombang. Ciri-cirinya:
·         Gelombang yang pertama kali dicatat seismograf
·         Gelombang longitudinal, yaitu gelombang yang arah gerak partikelnya searah dengan arah rambatan.
·          Kecepatan 330 m/s di udara, 1450 m/s di air dan 5000 m/s di granit.
·         Bisa merambat di segala jenis medium ( padat, cair, gas )
·          Relatif paling "lembut" dibandingkan dengan gelombang yang lain.
·         Amplitudo kecil
b)     Gelombang S merupakan gelombang transversal, di mana arah pergerakan pertikel akan tegak lurus dengan arah rambat gelombang. Ciri-cirinya:
·         Kecepatan 60 % dari P-wave (artinya lebih lambat).
·         Hanya bisa merambat di medium padat saja.
·         Efek kerusakan lebih besar dari gelombang Primer.
·         Amplitudo lebih besar dari gelombang Primer

Jenis Gelombang Gempa
Gelombang S

2.     Gelombang permukaan merupakan gelombang yang merambat hanya melalui kerak bumi. Gelombang ini memiliki frekuensi yang lebih rendah dibandingkan dengan gelombang badan. Gelombang permukaan dibedakan menjadi dua, yaitu: gelombang Love dan gelombang Reyleigh.
a)  Gelombang Love adalah gelombang geser (S wave) yang terpolarisasi secara horizontal dan tidak menghasilkan perpindahan vertikal. Gelombang Love terbentuk karena interferensi konstruktif dari pantulan-pantulan gelombang seismik pada permukaan bebas. Ciri –ciri :
·   Gelombang Tranversal, arah gerak partikelnya tegak lurus dengan araah rambatan.
·   Kecepatan 70 % dari Gelombang Sekunder
·   Paling merusak, terutama di daerah dekat epicentrum
·   Getaran yang dirasakan manusia pertama kali

·   Ditemukan oleh A.E.H Love pada 1911
Jenis Gelombang Gempa
Gelombang Love
b) Gelombang Rayleigh adalah gelombang yang lintasan gerak partikelnya menyerupai elips. Dihasilkan oleh gelombang datang P dan gelombang S yang berinteraksi pada permukaan bebas dan merambat sejajar dengan permukaan tersebut. Gelombang Love lebih cepat daripada gelombang Rayleigh dan lebih dahulu sampai pada seismograf. Ciri –Ciri :
·           Gerakan eliptik retrograde/ ground roll ( tanah memutar kebelakang ), tapi secara umum gelombangnya merambat ke depan, analoginya seperti gelombang laut.
·      Sedikit lebih cepat dari Love wave (90% dari kecepatan Gelombang Sekunder)
·           Ditemukan oleh Lord Rayleigh tahun 1885.
      Jenis Gelombang Gempa
      Gelombang Rayleigh

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Popular Posts

  • Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)
    Sumber : Google.com Beton terkenal karena kekuatannya dalam menahan gaya tekan. Kuat tekan beton merupakan parameter dari mutu/kualitas beto...
  • Mahasiswa Teknik Sipil Wajib Baca!! Istilah Proyek di Lapangan
    Sebelumnya saya senang mengucapkan selamat karena kamu sangat beruntung jika kamu adalah seorang mahasiswa teknik sipil yang sedang membaca ...
  • CARA MENENTUKAN TIPE RUMAH
    Apa sih maksudnya TIPE RUMAH 21, 36, 45, 54 dll ? seringkali para developer menawarkan jasa pembuatan rumah ataupun menjual rumah dengan me...
  • Membuat Laporan Harian, Mingguan, Bulanan
    Apa sih itu Laporan Harian, Laporan Mingguan, dan Laporan Bulanan? dan Bagaimana sih cara membuatnya? Bisa jadi inilah pertanyaan yan...

Follow Kami

  • Follow on Twitter
  • Like on Facebook
  • Subscribe on Youtube
  • Follow on Instagram

HALAMAN

  • Home
  • About Me

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  Agustus (2)
      • APA ITU RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)
      • Jenis - Jenis Fisher dan Fungsinya
  • ►  2024 (12)
    • ►  November (11)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2021 (11)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (15)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2018 (17)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (11)
  • ►  2017 (16)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (6)
  • ►  2016 (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)

Laporkan Penyalahgunaan

Pengikut Blog

Daftar Pengunjung Blog

MOTTO PENULIS

Sebanyak apapun Ilmu yang anda miliki, itu tidak akan berguna jika hanya untuk DIRI SENDIRI - Admin

Copyright © Ilmu Dasar Teknik Sipil | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates