Ilmu Dasar Teknik Sipil
  • HOME
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy policy
  • terms of service
  • Home
  • Struktur
    • GEDUNG
    • JEMBATAN
    • JALAN
    • BANGUNAN AIR
  • BAHAN
    • BETON
    • BAJA
    • KAYU
  • PROGRAM
    • SAP 2000
    • AUTOCAD
    • HEC RAS
    • PLAXIS
    • MICROSOFT PROJECT
  • TEKNIK FONDASI
    • FONDASI RUMAH
    • FOOTPLATE
    • BORPILE
  • LAINNYA
    • TEKNIK GEMPA
    • GEOTEKNIK
    • MANAJEMEN
    • MEKANIKA TANAH
  • Daftar Isi

Kamis, 30 Maret 2017

Struktur Atas dan Struktur Bawah

 Jefri Harjawinata     Maret 30, 2017     Konstruksi, Struktur     1 comment   

hallo bro/sist, kita mau bahas tentang struktur atas dan bawah nih 😄 kalau kamu lebih suka yang mana, atas atau bawah ?? 😜 haha......
waktu awal saya kuliah, dikasih tugas seperti ini, yaitu jelaskan pengertian dan komponen - komponen struktur atas dan bawah, siapa tau aja kalian juga dikasih tugas yang sama, nah langsung diserap aja !!

Pengertian Struktur Atas
Struktur atas suatu gedung adalah seluruh bagian struktur gedung yang berada di atas muka tanah. Struktur atas ini terdiri atas kolom, pelat, balok dan dinding geser, yang masing-masing mempunyai peran yang sangat penting.
Komponen – komponen Struktus Atas Gedung
1.      Kolom
Kolom merupakan komponen yang memiliki peran penting dalam suatu bangunan. Keruntuhan pada kolom merupakan lokasi paling kritis yang dapat menyebabkan keruntuhan pada bangunan. Fungsi kolom adalah penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Kolom termasuk struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup , serta beban hembusan angin. Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.
Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya merupakan gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi adalah material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang tahan tekanan. Gabungan kedua material ini dalam struktur beton memungkinkan kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa menahan gaya.



A.      Prinsip Kerja Kolom
Elemen struktur kolom yang mempunyai nilai perbandingan antara panjang dan dimensi penampang melintangnya relatif kecil disebut kolom pendek. Kapasitas pikul-beban kolom pendek tidak tergantung pada panjang kolom dan bila mengalami beban berlebihan, maka kolom pendek pada umumnya akan gagal karena hancurnya material. Dengan demikian, kapasitas pikul-beban batas tergantung pada kekuatan material yang digunakan. Semakin panjang suatu elemen tekan, proporsi relatif elemen akan berubah hingga mencapai keadaan yang disebut elemen langsing. Perilaku elemen langsing sangat berbeda dengan elemen tekan pendek. Perilaku elemen tekan panjang terhadap beban tekan adalah apabila bebannya kecil, elemen masih dapat mempertahankan bentuk liniernya, begitu pula apabila bebannya bertambah. Pada saat beban mencapai nilai tertentu, elemen tersebut tiba-tiba tidak stabil dan berubah bentuk.
Hal inilah yang dibuat fenomena tekuk (buckling) apabila suatu elemen struktur (dalam hal ini adalah kolom) telah menekuk, maka kolom tersebut tidak mempunyai kemampuan lagi untuk menerima beban tambahan. Sedikit saja penambahan beban akan menyebabkan elemen struktur tersebut runtuh. Dengan demikian, kapasitas pikul-beban untuk elemen struktur kolom itu adalah besar beban yang menyebabkan kolom tersebut mengalami tekuk awal. Struktur yang sudah mengalami tekuk tidak mempunyai kemampuan layan lagi. Fenomena tekuk adalah suatu ragam kegagalan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan suatu elemen struktur yang dipengaruhi oleh aksi beban. Kegagalan yang diakibatkan oleh ketidakstabilan dapat terjadi pada berbagai material. Pada saat tekuk terjadi, taraf gaya internal bisa sangat rendah. Fenomena tekuk berkaitan dengan kekakuan elemen struktur. Suatu elemen yang mempunyai kekakukan kecil lebih mudah mengalami tekuk dibandingkan dengan yang mempunyai kekakuan besar. Semakin panjang suatu elemen struktur, semakin kecil kekakuannya.
Banyak faktor yang mempengaruhi beban tekuk (Pcr) pada suatu elemen struktur tekan panjang. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
·         Panjang Kolom
Pada umumnya, kapasitas pikul-beban kolom berbanding terbalik dengan kuadrat panjang elemennya. Selain itu, faktor lain yang menentukan besar beban tekuk adalah yang berhubungan dengan karakteristik kekakuan elemen struktur (jenis material, bentuk, dan ukuran penampang).
·         Kekakuan
Kekakuan elemen struktur sangat dipengaruhi oleh banyaknya material dan distribusinya. Pada elemen struktur persegi panjang, elemen struktur akan selalu menekuk pada arah seperti yang diilustrasikan pada di bawah bagian (a). Namun bentuk berpenampang simetris (misalnya bujursangkar atau lingkaran) tidak mempunyai arah tekuk khusus seperti penampang segiempat. Ukuran distribusi material (bentuk dan ukuran penampang) dalam hal ini pada umumnya dapat dinyatakan dengan momen inersia (I).

·         Kondisi Ujung Elemen
Apabila ujung-ujung kolom bebas berotasi, kolom tersebut mempunyai kemampuan pikul-beban lebih kecil dibandingkan dengan kolom sama yang ujung-ujungnya dijepit. Adanya tahanan ujung menambah kekakuan sehingga juga meningkatkan kestabilan yang mencegah tekuk. Mengekang (menggunakan bracing) suatu kolom pada suatu arah juga meningkatkan kekakuan. Fenomena tekuk pada umumnya menyebabkan terjadinya pengurangan kapasitas pikul-beban elemen tekan. Beban maksimum yang dapat dipikul kolom pendek ditentukan oleh hancurnya material, bukan tekuk.

2.      Balok
Balok juga merupakan salah satu pekerjaan beton bertulang. Balok merupakan bagian struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan pengikat kolom lantai atas. Fungsinya adalah sebagai rangka penguat horizontal bangunan akan beban-beban. Balok juga memiliki beberapa jenis yaitu :
·         Balok sederhana, balok yang bertumpu pada kolom ujung-ujungnya, dengan satu ujung bebas berotasi dan tidak memiliki momen tahan. Seperti struktur statis lainya nilai dari semua reaksi pergeseran dan momen untuk balok sederhana adalah tidak tergantung bentuk penampang material.
·         Balok Kantilever, balok yang diproyeksikan atau struktur kaku lainnya didukung dengan hanya satu ujung tetap.
·         Balok Teritisan, balok sederhanya yang memanjang yang melewati kolom tumpuannya.
·         Balok Bentang Tersuspensi, balok sederhana yang ditopang oleh teristisan dari dua bentang dengan konstruksi sambungan pin pada momen nol.
·         Balok Kontinu, balok yang memanjang secara menerus melewati lebih dari dua kolom tumpuan untuk menghasilkan kekakuan yang lebih besar dan momen yang lebih kecil dari serangkaian balok tidak menerus dengan beban yang sama.
Balok terbagi beberapa macam yaitu:
a)      Balok Kayu
Balok kayu menopang papan atau dek structural. Balok dapat ditopang oleh balok induk, tiang, atau dinding penopang beban.

b)      Balok Baja
Balok baja menopang dek baja atau papan beton pracetak. Balok dapat ditopang oleh balok induk ( girder ), kolom, atau dinding penopang beban.

c)      Balok Beton
Pelat beton yang dicor di tempat dikategorikan menurut bentangan dan bentuk cetakannya.


3.      Plat Lantai

Plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung, jadi merupakan lantai tingkat. Plat lantai ini didukung oleh balok-balok yang bertumpu pada kolom-kolom bangunan.
Ketebalan plat lantai di tentukan oleh :
·         Besar lendutan yang diijinkan.
·         Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung.
·         Bahan konstruksi dan plat lantai.
Berdasarkan aksi strukturalnya, pelat dibedakan menjadi empat, yaitu :
a)      Plat Kaku
Pelat kaku merupakan pelat tipis yang memilikki ketegaran lentur (flexural rigidity), dan memikul beban dengan aksi dua dimensi, terutama dengan momen dalam (lentur dan puntir) dan gaya geser transversal, yang umumnya sama dengan balok. Pelat yang dimaksud dalam bidang teknik adalah pelat kaku, kecuali jika dinyatakan lain.
b)      Membran
Membran merupakan pelat tipis tanpa ketegaran lentur dan memikul beban lateral dengan gaya geser aksial dan gaya geser terpusat. Aksi pemikul beban ini dapat didekati dengan jaringan kabel yang tegang karena ketebalannya yang sangat tipis membuat daya tahan momennya dapat diabaikan.
c)      Plat Fleksibel
Pelat flexibel merupakan gabungan pelat kaku dan membran dan memikul beban luar dengan gabungan aksi momen dalam, gaya geser transversal dan gaya geser terpusat, serta gaya aksial. Struktur ini sering dipakai dalam industri ruang angkasa karena perbandingan berat dengan bebannya menguntungkan.
d)     Plat Tebal
Pelat tebal merupakan pelat yang kondisi tegangan dalamnya menyerupai kondisi kontinu tiga dimensi.

4.      Dinding Geser
Dinding Geser (shear wall) adalah suatu struktur balok kantilever tipis yang langsing vertikal, untuk digunakan menahan gaya lateral. Biasanya dinding geser berbentuk persegi panjang, Box core suatu tangga, elevator atau shaft lainnya. Dan biasanya diletakkan di sekeliling lift, tangga atau shaft guna menahan beban lateral tanpa mengganggu penyusunan ruang dalam bangunan.

Usaha untuk memonolitkan antara profil dengan beton pada struktur dinding geser, diberikan kabel pada dinding yang berupa baja mutu tinggi. Dengan pemberian profil sebagai tambahan untuk pengaku dalam menahan gaya lateral. Dinding geser dengan penambahan profil memberikan hasil kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan penampang dinding geser biasa dengan selisih beda 100% yang bisa dilihat pada diagram interaksi momen (Mn) dan beban axial(Pn). Perbedaan tersebut didapat dengan menarik garis linear pada diagram tersebut. 
Dengan adanya dinding geser yang kaku pada bangunan, sebagian besar beban gempa akan terserap oleh dinding geser tersebut. Perencanaan geser pada dinding structural untuk bangunan tahan gempa didasarkan pada besarnya gaya dalam yang terjadi akibat beban gempa. Namun, dalam prakteknya masih terdapat keraguan akan keandalan hasil desain dinding geser berdasarkan konsep ini. Hal ini menyebab kan masih disyaratkannya konsep desain kapasitas untuk perencanaan dinding geser dalam berbagai proyek gedung tinggi di Indonesia. Menurut konsep desain kapasitas, kuat geser dinding didesain berdasarkan momen maksimum yang paling mungkin terjadi di dasar dinding.
Dalam prakteknya dinding geser selalu dihubungkan dengan system rangka pemikul momen pada gedung. Dinding struktural yang umum digunakan pada gedung tinggi adalah dinding geser kantilever dan dinding geser berangkai. Dinding geser beton bertulang kantilever adalah suatu subsistem struktur gedung yang fungsi utamanya adalah untuk memikul beban geser akibat pengaruh gempa rencana. Kerusakan pada dinding ini hanya boleh terjadi akibat momen lentur (bukan akibat gaya geser), melalui pembentukkan sendi plastis di dasar dinding.

5.      Atap
Atap adalah bagaian paling atas dari suatu bangunan, yang melilndungi gedung dan penghuninya secara fisik maupun metafisik (mikrokosmos/makrokosmos).
Permasalahan atap tergantung pada luasnya ruang yang harus dilindungi, bentuk dan konstruksi yang dipilih, dan lapisan penutupnya. Di daerah tropis atap merupakan salah satu bagian terpenting. Struktur atap terbagi menjadi rangka atap dan penopang rangka atap. Rangka atap berfungsi menahan beban dari bahan penutup. Penopang rangka atap adalah balok kayu / baja yang disusun membentuk segitiga,disebut dengan istilah kuda-kuda.

Fungsi dari atap adalah :
·         Mencegah pengaruh dari hembusan angin.
·         Penaruh beban sendiri.
·         Curah hujan.
·         Melindungi ruang bawah, manusia serta elemen yang ada dibawahnya dari pengaruh cuaca.
·         Sinar cahaya matahari.
·         Sinar panas matahari.
·         Petir dan bunga api penerbangan.

1.      Kuda-kuda
Kontruksi kuda-kuda adalah suatu komponen rangka batang yang berfungsi untuk mendukung beban atap termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya. Kuda – kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap. Umumnya kuda-kuda terbuat dari :

·         Kuda-kuda Kayu
Digunakan sebagai pendukung atap dengan bentang sekitar 12 m.
·         Kuda-kuda Bambu
Pada umumnya mampu mendukun beban atap sampai dengan 10 m.
·         Kuda-kuda Baja
Sebagai pendukung atap, dengan sistem frame work atau lengkung dapar mendukung beban atap sampai beban atap sampai dengan bentang 75 m, seperti pada hanggar pesawat, stadion olahraga, bangunan pabrik, dan lain-lain.
·         Kuda-kuda dari Beton Bertulang
Dapat digunakan pada atap dengan bentang sekitar 10 hingga 12 m.
Pada dasarnya konstruksi kuda-kuda terdiri dari rangkaian batang yang selalu membentuk segitiga. Kuda-kuda diletakkan di atas dua tembok selaku tumpuannya. Perlu diperhatikan bahwa tembok diusahakan tidak menerima gaya horizontal maupun momen, karena tembok hanya mampu menerima beban vertikal saja. Kuda-kuda diperhitungkan mampu mendukung beban-beban atap dalam satu luasan atap tertentu. Beban-beban yang dihitung adalah beban mati (yaitu berat penutup atap, reng, usuk, gording, kuda-kuda) dan beban hidup (angin, air hujan, orang pada saat memasang/memperbaiki atap).

Struktur Bawah Bangunan
1.      Pondasi
Pengertian umum pondasi adalah struktur bagian bawah bangunan yang terhubung langsung dengan tanah, atau bagian bangunan yang terletak di bwah permukaan tanah yang berfungsi memikul beban bangunan yang ada diatas nya. Pondasi harus di perhitungkan untuk dapat menjamin kestabilan bangunan terhadap beban bangunan itu sendiri, beban-beban bangunan, gaya-gaya luar seperti tekanan angin gempa bumi, dan lain-lain. Di samping itu, tidak boleh adanya penurunan level melebihi batas yang di izinkan.
Agar kegagalan fungsi pondasi dapat dihindari, maka pondasi bangunan harus diletakkan pada tanah yang cukup keras, padat, dan kuat mendukung beban bangunan tanpa menimbulkan penurunan yang berlebih. Pondasi merupakan struktur dari bangunan yang sangat penting, karena fungsinya adalah menopang bangunan yang ada diatasnya.maka proses pembangunan nya harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
·         Cukup kuat menahan muatan geser akibata muatan tegak kebawah.
·         Dapat menyesuaikan pergerakan tanah yang tidak stabil.
·         Tahan terhadap perubahan cuaca.
·         Tahan terhadap pengaruh bahan kimia.
Suatu sistim harus menjamin dan mampu mendukung bangunan yang ada diatasnya. Untuk itu pondasi harus kuat, stabil, dan aman agar tidak mengalami penurunan, tidak mengalami patah karena akan sulit untuk memperbaiki sistem pondasi. Pembuatan pondasi harus berdasarkan beberapa hal berikut :
·         Berat bangunan yang akan di pikul oleh pondasi.
·         Jenis tanah dan dan daya dukung tanah.
·         Bahan pondasi yang tersedia atau mudah diperoleh di tempet.
·         Alat dan tenaga kerja yang tersedia.
·         Lokasi dan lingkungan pekerjaan.
·         Waktu dan biaya pekerjaan.
Hal yang penting berkaitan dengan pondasi adalah apa yang disebut soil investigation, atau penyelidikan tanah. Pondasi harus di letakkan pada tanah yang keras dan padat. Untuk mengetahui letak/kedalaman tanah yang keras dan tgangan tanah/daya dukung tanah, maka perlu diadakannya penyelidikan tanah, yaitu dengan cara :
·         Pengeboran (Driling), dari lubang hasil pengeboran akan di ketahui contoh-contoh tanah yang kemudian dikirim ke laboratorium mekanika tanah.
·         Percobaan Penetrasi (Penetration Test), dengan cara menggunakan alat yang disebut Sondir Statik Penetrometer. Ujungnya berupa conus yang ditekan masuk ke dalam tanah, dan secaa otomatis akan dibaca hasil sondir tegangan tanah.



2.      Galian Tanah
Galian tanah dan galian-galian lainya harus dilakukan menurut ukuran dalam, lebar, dan sesuai dengan peil-peil yang tercamtum pada gambar. Semua bekas-bekas pondasi lama, dan akar pohon yang terdapat pada bagian pondasi yang dilaksanakan harus dibongkar dan dibersihkan dan dibuang. Bekas pipa yang tidak terpakai harus disumbat. Apabila lokasi yang akan dijadikan bangunan pipa air, pipa gas, pipa pembuangan, kabel listrik, kabel telepon dan sebagainya maka secepatnya diberitahukan kepada konsultan managenen konstruksi atau instansi yang berwenang untuk mendapatkan petunjuk selanjutnya.
Pelaksanaan pekerja/kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan sebagai akibat dari pekerjaan galian tersebut. Apabila penggalian tersebut melebihi kedalaman yang telah di tentukan maka kontraktor harus mengisi/mengurangi daerah tersebut dengan bahan-bahan yang sesuai dengan syarat-syarat yang telah di tentukan yang sesuai dengan spesifikasi pondasi.
Pekerjaan galian pondasi harus menjada agar lubang galian tersebut bebas dai longsoran tanah di kiri dan kanan nya, sehingga pekerjaan pondasi dapat dilakukan dengan baik dan sesuai dengan spesifikasi yang telah di tentukan.
Pengisian kembali dengan tanah bekas galian di lakukan selapis demi selapis sambil disiram air secukupnya dan di tumbuk sampai padat. Pekerjaan pengesian kembali ini hanya boleh di lakukan setelah dilakukan pemeriksaan dan mendapat persetujuan konsultan manajemen konstruksi, baik mengenai kedalaman, lapisantanahnya maupun jenis tanah galian tersebut.
3.      Struktur Basement
Konstruksi basement sering merupakan solusi yang ekonomis guna mengatasi keterbatasan lahan dalam pembangunan gedung. Tapi sebagai struktur bawah tanah, desain maupun pelaksanaan konstruksi basement perlu dilakukan dengan memperhitungkan banyak hal. Disamping aspek teknis dari basement itu sendiri, tidak kalah pentingnya adalah aspek lingkungannya. Mutu pekerjaan pada konstruksi basement akan sangat mempengaruhi umur dari basement tersebut.
Pengendalian terhadap mutu terpadu sangat diperlukan untuk mencapai produk konstruksi mutu tinggi dan dapat diandalkan. Beberapa hal yang berkaitan dengan galian Basement yang perlu diperhatikan adalah beban dan metode galian. Beban tersebut biasanya berupa beban terbagi rata, beban titik, dan beban garis dan beban terbagi rata memanjang. Sedangkan metode galian dimana dibagi menjadi: open cut, cantilever, angker, dan strut.
Pemilihan metode galian disesuaikan dengan perencanaan bangunan dan konsdisi di lapangan. Pada metode galian basement ada beberapa factor yang perlu diperhatikan antara lain: jenis tanah, kondisi proyek, muka air tanah, besar tekanan tanah yang bekerja, waktu pelaksanaan, analisa biaya dan sebagainya.
Beberapa masalah yang timbul dalam pelaksanaan pembuatan galian basement, seperti penurunan permukaan tanah disekitar galian yang dapat menyebabkan kerusakan structural pada bangunan dekat galian, fan retaknya saluran dan sarana yang lain. Salah satu penyebabnya adalah penurunan permukaan air tanah disekitar galian akibat pemompaan selama konstruksi. Untuk mencegah masalah yang timbul maka metode pemilihan dewatering sangan menentukan.



sekian penjelasan saya, semoga bermanfaat ya !! coba juga lihat artikel menarik lainnya yah bro/sist 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Jenis Agregat dan Batuan

 Jefri Harjawinata     Maret 30, 2017     Agregat, Bahan, Batuan, Jenis agregat, jenis batuan     No comments   

hallo gan, sedang cari info tentang agregat ya ? nah disini saya menyediakan sedikit penjelasan tentang agregat dan batuan, siapa tau aja bisa bantu bro/sist sekalian untuk mengerjakan tugas kuliah (mungkin) 😂 atau mungkin untuk nambah - nambah pengetahuan tapi disini tidak jualan batu akik ya 😝

AGREGAT
Kandungan agregat dalam campuran beton sangat tinggi. Komposisi agregat berkisar antara 60%-70% dari berat campuran beton. Walaupun fungsinya hanya sebagai pengisi tetapi karena komposisinya yang cukup besar sehingga agregat inipun menjadi penting.
Agregat yang digunakan dalam campuran beton dapat berupa agregat alam atau agregat buatan (artificial aggregates). Secara umum, agregat dapat dibedakan berdasarkan ukuran yaitu agregat kasar dan agregat halus. Batasan ukuran antara agregat halus dan agregat kasar yaitu 4.80mm( British Standard) atau 4.75mm ( Standar ASTM). Agregat kasar adalah batuan yang ukuran butirnya lebih besar dari 4.80mm(4.75mm) dan agregat halus adalah batuan yang ukuran butirnya tidak lebih besar dari 4.80mm(4.75mm).
Agregat yang digunakan dalam campuran beton biasanya berukuran lebih kecil dari 40mm. Agregat yang ukurannya lebih besar dari 40mm digunakan untuk pekerjaan sipil lainnya, misalnya untuk pekerjaan jalan, tanggul penahan tanah,bendungan dan lainnya. Agregat halus biasanya dinamakan pasir dan agregat kasar dinamakan kerikil, spilit, batu pecah, kricak, dll.

BATUAN
Seorang insinyur sipil biasanya melihat batuan sebagai sebuah mineral yang keras, getas, sering kali tahan lama dan kuat, yang diatasnya dapat berdiri bangunan atau digunakan untuk mendirikan bangunan. Batuan dalam penggunaannya dipekerjaan teknik sipil, dapat dibedakan menjadi dua jika dilihat dari ilmu yang mempelajarinya.
  1. Geologis : batuan sebagai mineral, yang terbentuk melalui proses terbentuknya batuan. 
  2. Geoteknik : batuan sebagai mineral yang diatasnya, didalamnya, atau denganya dapat dibangun berbagai konstruksi.
Jika dilihat dari proses terbentuknya, batuan sebagai mineral dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, batuan beku (magma), batuan endapan (sedimentasi), batuan peralihan (metamorph). Tidak ada yang terbentuk karena digosok gerinda ya ?? 😎 (Emangnya akik 😵)
Batuan Beku (Magma)
Batuan magma atau batuan beku terbentuk dari proses pembekuan magma yang terdapat didalam lapisan bumi yang dalam atau dari hasil pembekuan magma yang keluar akibat letusan gunung merapi.
Batuan Sedimen
Batuan sedimen atau batuan endapan terbentuk karena mengendapnya bahan-bahan terurai, sehingga membentuk suatu lapisan endapan bahan padat yang secara fisik diendapkan oleh angin,air,atau es. Batuan sedimen dapat juga terbentuk dari bahan-bahan terlarut yang secara kimia terendapkan dilautan,sungai, danau.
Batuan Metamorf
Batuan metamorf terjadi karena proses metamorfosis, yaitu perubahan yang dialami oleh batuan karena perubahan temperatur dan tekanan. Pada umumnya peningkatan temperatur dan tekanan akan mempengaruhi besar butiran yang terbentuk.

Agregat di Indonesia
Indonesia mempunyai geografi, geologi, dan iklim panas dan basah yang berganti sepanjang tahun. Hal tersebut membuat batu-batuannya mengalami pelapukan dengan derajat yang bergantung pada jenis batu-batuan, iklim, derajat erosi, exposure, dan lainnya. Aspek-aspek yang mempengaruhi pelapukan batuan ini akan mempengaruhi produksi beton. Batuan di Indonesia umumnya terdiri dari igneous vulkanis yang muda seperti basalt,dolomit,andesit, porhyries,tuff,ashes,lebih dalam lagi dapat ditemukan granite dan batu-batuan sedimen dilaut, yaitu sandstone, limestone, dan malstone. Batu-batuan seperti ini biasanya didapat pada lipatan dan patahan pada gugusan atau pegunungan.
Karakteristik Agregat
Jika dilihat dari sumbernya, agregat dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu agregat yang berasal dari alam dan agregat buatan. Contoh agregat yang berasal dari sumber alam adalah pasir alami dan kerikil, sedangkan contoh agregat buatan adalah agregat yang berasal dari stone crusher, hasil residu terak tanur tinggi,pecahan genteng, pecahan beton, fly ash dari residu PLTU, extended shale, expanded slag dan lainnya.
Pasir sungai dan batu-batuan yang digali
Pasir yang digunakan dalam campuran beton jika dilihat dari sumbernya dapat berasal dari sungai atau galian tambang (quarry). Agregat yang berasal dari tanah galian biasanya berbentuk tajam, bersudut, berpori dan bebas dari kandungan garam. 
Mengolah Agregat Alam
Tujuan utama pengolahan agregat adalah untuk mendapatkan agregat dengan mutu tinggi dengan biaya yang rendah. Pengolahan agregat alam meliputi penggalian(excavating), pengangkutan(hauling), pencucian, pemecahan (crushing), dan penentuan ukuran.
Pada waktu penggalian bahan-bahan yang akan menambah berat seperti lempung dan lanau harus disingkirkan karena bahan-bahan tersebut tidak dikehendaki. Pemisahan bahan yang tidak dikehendaki tersebut dapat dilakukan dengan alat power-shovels,draglines, atau scrapers. Bila bahan-bahan ini tidak terlalu banyak jumlahnya, cukup dilakukan pencucian yaitu dengan dilewatkan pada saluran buatan dan agregat tersebut akan disemprot dengan air. Proses  Kemudian agregat diperkecil ukurannya dengan menggunakan alat pemecah batu. Alat pemecah batu yang paling tua disebut Jaw Crusher yang terdiri dari sebuah rahang yang bergerak dan satunya tetap.
Untuk menentukan ukuran dari agregat, agregat kasar disaring menggunakan saringan bergetar sedangkan agregat halus disaring dengan menggunakan saringan hidrolik. Saringan tersebut memiliki perbedaan dalam pembuatannya, kapasitas, serta efisiensinya.
Jenis Agregat
Seperti yang diuraikan diatas, agregat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu agregat alam dan agregat buatan. Agregat alam dan buatan inipun dapat dibedakan berdasarkan beratnya, asalnya, diameter butirnya(gradasi), dan tekstur permukaannya.

Jenis Agregat Berdasarkan Berat
Agregat dapat dibedakan berdasarkan beratnya. Ada tiga jenis agregat berdasarkan beratnya, yaitu agregat normal,agregat ringan dan agregat berat. Peraturan beton 1989 mencakup agregat normal dan agregat ringan.
Jenis Agregat Berdasarkan Bentuk
Bentuk agregat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Secara alamiah bentuk agregat dipengaruhi oleh proses geologi batua. Setelah dilakukan penambangan, bentuk agregat dipengaruhi oleh cara peledakan dan mesin pemecah batu dan teknik yang digunakan. Klasifikasi agregat berdasarkan bentuknya adalah sebagai berikut.
a.       Agregat Bulat
b.      Agregat Bulat sebagian atau Tidak Teratur
c.       Agregat bersudut
d.      Agregat Panjang
e.       Agregat Pipih
f.       Agregat Pipih dan Panjang
sumber : Internet

Jenis Agregat Berdasarkan Tekstur Permukaan
Umumnya agregat dibedakan menjadi kasar, agak kasar, licin, agak licin. Berdasarkan pemeriksaan visual, tekstur agregat dapat dibedakan menjadi sangat halus (glassy), halus, granular, kasar, berkristal(crytalline), berpori, dan berlubang-lubang. Permukaan yang kasar akan menghasilkan ikatan yang lebih baik jika dibandingkan dengan permukaan agregat yang licin. Secara umum susunan permukaan ini sangat berpengaruh pada kemudahan pekerjaan. Semakin licin permukaan ini sangat berpengaruh pada kemudahan pekerjaan. Semakin licin permukaan agregat maka semakin sulit pekerjaan beton. Umumnya jenis agregat dengan permukaan kasar lebih di sukai. Jenis agregat berdasarkan tekstur permukaannya dapat dibedakan sebagai berikut :

Ø  Agregat licin/halus(glassy)
Ø  Berbutir (granular)
Ø  Kasar
Ø  Kristalin (cristalline)
Ø  Berbentuk Sarang Labah (honeycombs)

Sifat-sifat Agregat dalam Campuran Beton
Sifat-sifat agregat sangat berpengaruh pada mutu campuran beton. Untuk menghasilkan kekuatan beton yang diinginkan maka sifat-sifat ini perlu dipelajari agar dapat mengambil tindakan positif apabila terjadi masalah.
Serapan Air dan Kadar Air Agregat
Pada saat terbentuknya agregat kemungkinan ada terjadinya udara yang terjebak dalam lapisan atau terjadi karena dekomposisi mineral pembentuk akibat perbuhan cuaca, maka terbentuklah lubang atau rongga kecil didalam butiran agregat (pori). Pori didalam agregat mempunyai bentuk yang bervariasa dan pori-pori mungkin menjadi reservoir air bebas di dalam agregat. Presentase berat air yang mampu diserap agregat didalam air disebut sebagai serapan air, sedangka banyaknya air yang terkandung dalam agregat disebut kadar air.
Agregat Jenis Lain dan untuk Hal-hal Khusus
1.      Agregat Jenis lainnya
Ø  Batu pecah
Ø  Pecahan bata atau genteng
Ø  Tanah liat bakar
Ø  Herculite atau haydite
Ø  Agregat abu terbang
Ø  Benda limbah padat buangan

2.      Agregat untuk hal-hal khusus
Untuk bahan yang harus kuat dan awet, agregat yang digunakan adalah corondum sintetik (Al2O3) dengan berat isi murni 3.9-4.0 kg/dm³ atau silicone carbide dengan berat murni 3.1-3.2 kg/dm³. Selain itu dapat juga menggunakan jenis agregat lain yang keras seperti batu alam misalnya basalt, terak tanur tinggi, jenis-jenis logam.
Agregat yang sangat ringan untuk isolasi terhadap panas atau yang tahan api adalah perlit, sejenis gelas dari batuan beku (vulkanik) dengan berat isi sekitar 0.6-0.2 kg/dm³, vermiculit dengan berat isi massa sekitar 0.07-0.09 kg/dm³ dan foamglass.
Agregat yang digunakan sebagai pelindung radiasi adalah jenis batuan dengan berat isi murni yang tinggi spar yang memiliki berat isi murni 4.15-4.45 kg/dm³, magnet, biji besi dengan berat isi murni 4.40-5.00 kg/dm³ dan baja (dapat berbentuk pasir atau sebagai butiran-butiran) dengan berat isi murni 6.80-7.60 kg/dm³.

oke sekian dari penjelasan batu akiknya 😜 kalau bro/sist mau tempe lebih banyak, bisa cek diartikel yang lain ya !! atau kalau tidak ada artikelnya yang diinginkan, boleh tinggalkan komentarnya ya ? nanti kalau sempat dan bisa, akan saya jawab. tapi kalau saya juga tidak tahu, kita coba tanya ke mbah google 





Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Rabu, 29 Maret 2017

Asphalt Mixing Plant Jenis Takaran

 Jefri Harjawinata     Maret 29, 2017     Alat AMP, Alat Ringan & Alat Berat, Asphalt Mixing Plant     No comments   

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang jenis - jenis AMP, maka pada artikel ini kita akan mencoba membahas tentang aspalt mixing plant jenis takaran. 
Pada AMP jenis takaran agregat digabungkan, dipanaskan dan dikeringkan serta secara proporsional dicampur dengan aspal untuk memproduksi campuran beraspal panas. AMP dapat berukuran kecil atau besar tergantung dari kuantitas campuran yang dihasilkannya, disamping itu ditinjau dari mobilitasnya, pada umumnya AMP jenis takaran dapat digolongkan atas :
a)      AMP yang permanen
b)      AMP yang mudah di pindah-pindah dan dapat dipasang di dekat lokasi proyek.
Kapasitas AMP bervariasi dan umumnya berkisar dari 500 kg sampai 1200 kg per batch atau lebih besar. Proses pencampuran untuk masing-masing batch sekitar 40 menit. Untuk jalan-jalan dengan lalu-lintas padat dan berat disarankan menggunakan kapasitas AMP yang lebih besar dari 800 kg per batch.
Beberapa keunggulan dari penggunaan kapasitas 800 kg per batch atau lebih adalah sebagai berikut :
·       Penggunaan kapasitas yang besar akan membantu menghasilkan campuran yang relatif seragam dan mengurangi faktor ketidakpastian.
·  Kapasitas yang lebih besar relatif lebih menjamin kelancaran pasokan campuran beraspal ke unit penghampar. Pasokan yang tidak lancar pada unit penghampar dapat mengakibatkan permukaan jalan tidak rata dan kepadatan tidak tercapai, karena campuran di bawah alat penghampar telah dingin sehingga pada bagian tersebut sulit diratakan dan dipadatkan.
·  Kapasitas yang besar akan mempercepat penyelesaian pekerjaan, yang berarti mengurangi gangguan terhadap kelancaran lalu-lintas. Pada jalan-jalan utama gangguan akibat adanya pekerjaan pelapisan ulang sangat besar pengaruhnya.

· Proses produksi campuran beraspal panas dengan menggunakan AMP jenis takaranseperti diperlihatkan pada Gambar 4 dimulai dari memasok agregat dingin dari bin dingin dengan jumlah terkontrol, kemudian dipanaskan dan dikeringkan melalui pengering (dryer). Selanjutnya agregat disaring dengan unit saringan panas (hot screen) yang akan memisahkan agregat berdasarkan ukuran fraksinya lalu dimasukkan ke dalam bin panas. Masing-masing agregat dari bin panas ditimbang sesuai proporsi yang diinginkan. Bila diperlukan, bahan pengisi (filler) ditambahkan melalui pemasok bahan pengisi.Selanjutnya dicampur kering dalam pencampur.Aspal dengan jumlah terkontrol ditambahkan setelah pencampuran kering.Bila pencampuran agregat dengan aspal telah homogen, campuran selanjutnya dituangkan ke dalam truk pengangkut dan dibawa ke tempat penghamparan.
Gambar skema pengoperasian

2.1. Bin dingin
Bin dingin (cold bin) adalah bak tempat menampung material agregat dari tiap-tiap fraksi mulai dari agregat halus sampai agregat kasar yang diperlukan dalam memproduksi campuran aspal panas (hot mix).Bagian pertama dari AMP adalah bin dingin, yaitu tempat penyimpanan fraksi agregat kasar, agregat sedang, agregat halus dan pasir. Bin dingin harus terdiri dari minimum 3 sampai 5 bak penampung (bin). Masing-masing bin berisi agregat dengan gradasi tertentu. Agregat-agregat tersebut harus terpisah satu sama lain, untuk menjaga keaslian gradasi dari masing masing bin sesuai dengan rencana gradasi pada formula campuran kerja (FCK/JMF ). Untuk memisahkannya, dapat dipasang pelat baja pemisah antar bin. Dengan demikian maka loader (alat pengangkut) yang digunakan mengisi masing-masing bin harus mempunyai bak (bucket) yang lebih kecil dari mulut pemisah masing-masing bin. Jika pemisah tidak ada maka pengisian masing-masing bin tidak boleh berlebih yang dapat berakibat tercampurnya agregat.
Penyimpangan gradasi agregat di bin dingin baik itu karena tercampurnya agregat pada masing-masing bin atau kalibrasi bukaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan kesulitan pengaturan gradasi di bin panas. Kemungkinan salah satu bin panas pengisian agregat relatif lebih lama dibanding dengan bin lainnya. Akibatnya waktu produksi menjadi lama dan selama menunggu terisinya bin tersebut, terjadi pelimpahan material (overflow) pada bin panas lainnya.
Jenis bin dingin yang umum dikenal adalah : (1) ban berjalan menerus, (2) getar, dan (3) aliran. Tipikal masing-masing jenis bin dingin tersebut diperlihatkan pada Gambar 5. Jenis pertama (continuous) cocok untuk agregat halus, sedangkan yang lainnya cocok untuk agregat kasar.
Gambar 5. Jenis bin dingin

2.1.1 Pintu pengeluar agregat pada bin dingin
Pintu pengeluaran agregat pada bin dingin (cold feed gate) dipasang di bagian bawah dari bin dingin, lubang pintu ini dilengkapi dengan skala yang angkanya menunjukkan besarnya lubang bukaan yang dapat diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan. Besarnya bukaan pintu pada setiap bin dingin yang telah berisi agregat dan siap untuk digunakan dalam pencampuran, harus dikalibrasi terlebih dahulu pada setiap kondisi dan jenis agregat yang akan digunakan. Kelancaran pasokan agregat ke bin panas dapat terganggu jika pintu pengeluaran bin dingin tersumbat oleh batu atau lainnya. Untuk menjaga kelancaran pasokan dari bin dingin, biasanya ada personil khusus yang mengawasi kelancaran pasokan tersebut. Pada musim hujan, jika agregat halus tidak dilindungi terhadap hujan, dapat juga menyebabkan penyumbatan pintu pasokan akibat menggumpalnya agregat halus di pintu pengeluaran/pasokan.


2.1.2 Sistim pemasok agregat dingin
Sistim pemasok agregat dingin dipasang pada empat atau lebih bin dingin, melalui bukaan atau pintu yang dapat diatur, agregat dingin diangkut melalui reciprocating feeder dan atau ban berjalan (belt conveyor) dan diteruskan menggunakan elevator dingin (cold elevator) menuju ke drum pengering, tipikal sistim pemasok agregat dingin diperlihatkan pada Gambar 6.

Gambar .6. Tipikal pemasokan agregat dari bin dingin

Kesinambungan aliran material dari bin dingin ini sangat berpengaruh terhadap produksi campuran beraspal, untuk itu perlu pengendalian mutu yang ketat pada bin dingin salah satu penyimpangan yang sering terjadi pada bin dingin adalah tidak dipasangnya pembatas antara mulut pasokan agregat pada bin dingin sehingga agregat dari bin dingin yang satu bercampur dengan agregat dari bin dingin lainnya. Faktor–faktor yang harus mendapat perhatian pada bin dingin (cold bin) adalah 
  • Tidak ada perubahan gradasi agregat. Perubahan gradasi dapat disebabkan karena perbedaan quari atau suplier. Jika terjadi perubahan gradasi agregat maka harus dilakukan pembuatan FCK (JMF) kembali.
  • Agregat tidak tercampur. Pencampuran agregat antar bin yang berdekatan dapat dicegah dengan membuat pemisah yang cukup dan pengisian tidak berlebih.
  • Bukaan bin dingin dikalibrasi secara periodik.
  • Tidak ada penghalang pada bukaan bin dingin. Bukaan bin dingin agregat halus kadang-kadang tersumbat jika agregat halus basah, agregat terkontaminasi tanah lempung, atau penghalang lain yang tidak umum seperti batu dan kayu.
  • Tidak terjadi perubahan kecepatan conveyor dan ada operator yang mengontrol aliran agregat untuk membuang material yang tidak perlu.


2.2 Pengering (Dryer)
Dari bin dingin agregat dibawa melalui elevator dingin dinaikkan ke dalam pengering (dryer) untuk dipanaskan dan dikeringkan pada temperatur yang diminta Pengering ini berbentuk silinder dengan panjang dan diameter tertentu berdasarkan kapasitas maksimum produksi yang direncanakan per jamnya.
Pengering mempunyai fungsi: (1) menghilangkan kandungan air pada agregat; dan (2) memanaskan agregat sampai temperatur yang disyaratkan. Komponen yang terdapat pada sistim pengering adalah:
·         Silinder berputar (pengering) yang umumnya berdiameter 91 cm sampai 305 cm dan panjang 610 cm sampai 1219 cm.
·         Ketel pembakar (burner) yang berisi gas atau minyak bakar untuk menyalakan pemanas.
·         Kipas (fan) sebagai bagian dari system pengumpul debu dan mempunyai fungsi utama untuk memberikan udara atau oksigen dalam sistim pemanas.


Gambar 7. Pengering pada drum pengering AMP jenis takaran

Pada sistim pengering dipasang serangkaian baris sudu-sudu yang terbuat dari pelat logam cekung yang dilas dalam bentuk yang bervariasi dan melekat pada permukaan di bagian dalam silinder tersebut.Sudu-sudu ini (flight cup) digunakan untuk mengangkat dan menjatuhkan agregat sehingga pengeringan agregat menjadi merata.Tipikal sudu-sudu (flight up) diperlihatkan pada Gambar 8. Bentuk pengering, kecepatan putaran, diameter , panjang, jumlah dan disain dari sudusudu (flight cup) mempengaruhi lamanya waktu yang diperlukan untuk proses pengeringan di dalam sistim pengering agregat. Oleh karena itu jumlah, bentuk dan susunan sudu-sudu harus diperhatikan untuk efisiensi pengeringan.Selanjutnya agregat yang telah dikeringkan dialirkan menuju elevator panas (hotelevator) melalui pintu pengeluar yang terdapat pada ujung alat pengering.

Gambar 8. Tipikal sudu-sudu pada pengering

Pada unit pengering (dryer) perlu diperhatikan beberapa faktor agar diperoleh campuran beraspal yang memenuhi syarat, yaitu antara lain :
·         Kalibrasi alat pengukur temperatur dan pemeriksaan temperatur pemanasan. Perubahan kuantitas agregat yang masuk ke unit pengering akibat dari pengaturan bukaan bin dingin dapat menyebabkan pemanasan berlebih (jumlah agregat yang masuk berkurang sementara panas pembakar tetap).
·         Pembakaran harus sempurna, hal ini dapat diindikasikan dari warna asap yang keluar dari cerobong asap adalah putih dan nyala api pembakaran berwarna biru. Warna asap yang hitam menandakan pembakaran tidak sempurna. Contoh dari akibat pembakaran yang tidak sempurna adalah, pada saat pengambilan agregat dari hot bin, agregat terlihat berwarna hitam terselimuti jelaga. Akibat dari hal tersebut aspal tidak dapat masuk ke pori-pori agregat dan juga tidak dapat melekat dengan baik ke agregat.
·         Kadar air pada agregat harus seminimum mungkin, oleh karena itu lakukan pemeriksaan kadar air secara cepat; ambil contoh secukupnya, kemudian lewatkan cermin yang kering, atau spatula diatas agregat tersebut. Amati jumlah kadar air yang mengembun pada permukaan cermin atau spatula. Agregat yang masih mengandung kadar air akan menghalangi melekatnya aspal ke agregat, sehingga campuran beraspal berprilaku seolah-olah kelebihan aspal.

2.3 Pengumpul debu (dust collector)
Alat pengumpul debu (dust collector) harus berfungsi sebagai alat pengontrol polusi udara di lingkungan lokasi AMP. Gas buang yang keluar dari sistim pengering ditambah dengan dorongan kipas pengeluar (exhaust fan) akan dialirkan ke pengumpul debu. Alat pengumpul debu yang tidak berfungsi dengan baik akan menyebabkan terjadinya polusi udara, dan ini terlihat jelas dari adanya kotoran atau debu di pohon-pohon atau atap rumah di sekitar lokasi AMP. Secara umum terdapat beberapa jenis kombinasi sistim pengumpul debu, antara lain :
·         Sistim pengumpul debu jenis kering (dry cyclone dust collector), debu yang terbawa gas buangan diputar, sehingga partikel berat ke bagian bawah dan gas yang telah bersih keluar dari cerobong asap. Partikel berat selanjutnya dikembalikan ke bin panas (hot bin) melalui sistim pengatur udara (air lock damper).
·         Sistim pengumpul debu jenis basah (wet scrubber dust collector), debu yang terbawa gas buangan disemprot dengan air, sehingga partikel berat akan terjatuh ke bawah dan gas yang telah bersih keluar dari cerobong asap. Partikel berat tersebut kemudian dialirkan ke bak penampung (bak air). Jika pada bak air penampung terlihat jelaga yang mengambang dengan jumlah yang cukup banyak, maka hal ini menunjukkan terjadi pembakaran yang tidak sempurna pada pengering (dryer). Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan maka segera lakukan koreksi atau perbaikan pada pengering (dryer).
·         Tipikal dari kedua jenis pengumpul debu diperlihatkan pada Gambar 9. Muatan udara yang mengandung partikel debu, asap dan gas harus dikontrol sampai ambang batas yang telah ditentukan sesuai dengan peraturan yang berlaku mengenai dampak lingkungan.
 
Jenis basah (wet scrubber dust collector)
Jenis kering (dry cyclone dust collector)    

Gambar 9. Tipikal jenis-jenis pengumpul debu Lubang

2.4 Unit ayakan panas (hot screening unit)
Kebanyakan AMP menggunakan unit ayakan panas (hot screening unit) jenis mendatar dengan sistim penggetar yang umumnya terdiri dari empat susunan. Agregat yang telah dikeringkan dan dipanaskan diangkut dengan mangkok elevator panas (hot elevator bucket) untuk disaring dengan susunan unit ayakan panas dan dipisahkan dalam beberapa ukuran yang selanjutnya dikirim ke bin panas (hot bin). Tipikal unit ayakan panas diperlihatkan pada Gambar II.10. Umumnya pada proses penyaringan terjadi pelimpahan agregat, misalnya yang semestinya masuk ke bin panas I tetapi terbawa ke bin panas II. Pelimpahan ini pada kondisi normal terjadi kurang dari 5 % dan cenderung konstan sehingga tidak terlalu mengganggu kualitas produksi. Akan tetapi presentase tersebut dapat bertambah jika : lubang saringan tertutup agregat, kecepatan produksi ditambah sehingga agregat yang disaring bertambah sementara efisiensi operasi penyaringan tetap, agregat halus basah sehingga pada saat pengeringan dan pemanasan agregat halus tersebut akanmenggumpal dan masuk ke hot bin yang tidak semestinya. Kemungkinan lain adalah lubang-lubang pada saringan sudah ada yang rusak, sehingga beberapa agregat masuk ke bin panas yang tidak semestinya.
Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan gradasi dan kadar aspal secara serius. Unit bagian atas dari susunan ayakan merupakan penutup dari dek dan merupakan saringan pertama yang biasa disebut pemisah (scalping). Pada susunan unit ayakan dengan ukuran lubang terbesar berfungsi membuang agregat yang mempunyai diameter yang lebih besar dari ukuran agregat Universitas Sumatera Utara
maksimum yang diminta (oversize) agar tidak masuk ke bin panas (hot bin) dan membuangnya pada pintu pembuang.

Gambar II.10. Tipikal unit ayakan panas

Pemasangan saringan pada unit ayakan panas harus tidak pada ukuran yang berdekatan. Contoh susunan ayakan untuk campuran beraspal dengan ukuran butir agregat maksimum 19 mm adalah :
·         Saringan pertama / teratas berukuran 19 mm, butir agregat yang ukurannya lebih besar (oversize) dibuang ke saluran pembuang
·         Saringan ke-dua berukuran 12,5 mm (1/2 inchi). Ukuran butir agregat antara 19 mm sampai 12,5 mm masuk ke bin 1
·         Saringan ke-tiga berukuran 4,75 mm (No. 4). Ukuran butir agregat antara 9,5 sampai dengan 4,75 mm masuk ke bin 2.
·         Saringan ke-empat berukuran 2,36 mm (No. 8). Ukuran butir agregat antara 4,75 sampai dengan 2,36 mm masuk ke bin 3. Sementara agregat yang lolos saringan 2,36 mm masuk ke bin 4.
Unit ayakan panas harus dibersihkan dan diperiksa setiap hari untuk menghindarkan dari kemungkinan rusak atau robek.

2.5 Bin panas (hot bin)
Bin panas (hot bin) dipasang pada AMP jenis takaran (batch). Pada AMP jenis takaran umumnya akan terdapat 4 bin yang dilengkapi dengan pembatas yang rapat dan kuat dan tidak boleh berlubang serta mempunyai tinggi yang tepat sehingga mampu menampung agregat panas dalam berbagai ukuran fraksi yang telah dipisah-pisahkan melalui unit ayakan panas.Pada bagian bawah dari tiap bin panas harus dipasang saluran pipa untuk membuangagregat yang berlebih dari tiap bin panas yang dapat dioperasikan secara manual atauotomatis.Jika agregat halus masih menyisakan kadar air (pengering kurang baik) setelah pemanasan, maka agregat yang sangat halus (debu) akan menempel dan menggumpalpada dingding bin panas dan akan jatuh setelah cukup berat. Hal tersebut dapatmenyebabkan perubahan gradasi agregat, yaitu penambahan material yang lolos saringan No. 200
2.6 Sistim pemasok bahan pengisi (filler elevator)
Bahan pengisi (filler) sangat sensitif untuk mengeras karena pengaruh kadar air, oleh karena itu diperlukan wadah khusus (silo) agar bahan pengisi bebas dari pengaruh air. Umumnya bahan pengisi dimasukkan ke dalam AMP melalui penimbang yang biasa disediakan untuk menimbang agregat panas, namun terdapat juga AMP yang menyediakan penimbang khusus untuk bahan pengisi.Terdapat dua sistim untuk memasok bahan pengisi ke dalam AMP yaitu sistim pneumatik dan mekanik. Untuk sistim pneumatik, bahan pengisi dimasukkan ke dalam pencampur dengan cara pengaliran seperti bahan cair, sedangkan untuk sistim makanik bahan pengisi dari silo dimasukkan ke dalam pencampur dengan menggunakan wadahwadah yang dirangkai dengan ban berjalan sehingga merupakan elevator bahan pengisi. Karena pengaruh bahan pengisi dalam campuran cukup besar, maka diperlukan pemeriksaan secara berkala. Penambahan bahan pengisi akan menyebabkan campuran menjadi lebih kaku (stiff), akan tetapi penambahan yang terlalu banyak akan berpengaruh negatif, yaitu lapisan beraspal menjadi getas dan mudah retak.
2.7 Tangki aspal (asphalt storage)
Tangki aspal pada AMP harus cukup besar sehingga dapat menampung aspal yang memenuhi kebutuhan aspal saat AMP dioperasikan, dan aspal yang terdapat di dalamnya dapat dengan mudah terlihat.Pada beberapa AMP terdapat beberapa tangki aspal yang saling berhubungan satu dengan lainnya.Tangki pertama mempunyai fungsi menampung aspal yang baru datang dari pemasok, dan tangki lainnya mempunyai fungsi untuk menampung aspal yang telah dipanaskan dan siap untuk ditimbang dan dimasukkan ke dalam pencampur (mixer/pugmill). Setiap tangki harus dilengkapi dengan sebuah alat sensor thermometric yang telah dikalibrasi sehingga temperatur aspal dari tiap tangki akan terkontrol.
Aspal harus cukup cair untuk dapat dialirkan dengan baik, oleh karena itu diperlukan penangas aspal. Terdapat beberapa jenis penangas aspal di dalam tangki, antara lain dengan sistim sirkulasi uap panas atau sirkulasi oli panas di dalam tangki aspal atau dapat juga dengan sistim elektrik.
Pada sirkulasi aspal terdapat dua jenis pipa, yaitu pipa pemasok yang berfungsi mengalirkan aspal panas untuk ditimbang dan pipa pengembali yang berfungsi mengalirkan aspal kembali ke dalam tangki.Tangki aspal, pipa pemasok, pipa pengembali, dan timbangan aspal harus mempunyai pelindung panas sehingga dapat menjamin temperatur aspal sesuai dengan yang ditentukan.Pada sirkulasi aspal pipa pengembali harus terletak di bawah pipa pemasok aspal.Untuk mencegah terjadinya kekosongan dalam pipa pengembali aspal, perlu dipasang dua atau tiga buah lubang pada pipa pengembali di atas ambang atas tertinggi aspal dalam tangki.
2.8 Timbangan agregat (aggregate weight hopper)
Pada AMP jenis takaran terdapat dua macam timbangan untuk agregat yaitu timbangan untuk agregat dan timbangan untuk bahan pengisi (filler). Timbangan untuk agregat ditempatkan langsung di bawah bin panas (hot bin). Hasil penimbangan dari agregat langsung ditransmisikan oleh mekanisme timbangan pada skala penunjuk tanpa pegas, sehingga berat agregat tiap bin serta jumlah tiap takaran dapat dibaca.
Pada bagian ini operator AMP sangat berperan. Jika keseimbangan waktu pencapaian berat bin panas sulit tercapai, maka operator harus melakukan pengecekan aliran material mulai dari bin dingin. Akan tetapi jika ketidak seimbangan waktu tersebut dipaksakan terus berjalan, maka dapat dipastikan akan terjadi penyimpangan gradasi sebagai akibat proporsi masing-masing hot bin tidak sesuai. Temperatur agregat juga akan berfluktuasi akibat dari kuantitas aliran agregat pada pengering (dryer) yang tidak stabil.
Urutan penimbangan tiap bin panas harus diamati secara teliti dan sebaiknya penimbangan fraksi agregat kasar didahulukan. Sebelum AMP dioperasikan, skala timbangan dibersihkan, tiap bagian diperiksa dan harus dilakukan kalibrasi timbangan secara periodik oleh instansi berwenang.AMP sebaiknya menggunakan sistim kontrol yang otomatis untuk memperoleh komposisi campuran yang sesuai.
Faktor-faktor penting pada unit timbangan agregat yang perlu mendapat perhatian antara lain sebagai berikut :
- Kalibrasi timbangan.
- Weigh box tergantung bebas.
- Kontrol harian terhadap kinerja operator AMP.
2.9 Timbangan aspal (asphalt weight hopper)
Setelah aspal dipanaskan dalam tangki aspal pada temperatur yang ditentukan berdasarkan tingkat keencerannya, maka aspal panas dialirkan melalui pipa pemasok untuk ditimbang beratnya sesuai dengan yang dibutuhkan sebelum dimasukkan ke dalam pencampur (mixer/pugmill).Gambar skematik aliran aspal dan pengukuran aspal diilustrasikan pada Gambar II.11.Kuantitas aspal yang dialirkan ke dalam pencampur (mixer) harus selalu diamati dan secara berkala timbangannya dikalibrasi, sehingga diperoleh jumlah aspal yang tepat dengan toleransi sesuai dengan spesifikasi.


Gambar II.11. Tipikal penimbangan dan aliran aspal

2.10 Pencampur (mixer atau pugmill)
Setelah aspal, agregat dan bahan pengisi (bila perlu) ditimbang sesuai dengan komposisi yang direncanakan, bahan tersebut dimasukkan ke dalam pencampur (mixer/pugmill). Waktu pencampuran harus sesingkat mungkin untuk mencegah oksidasi yang berlebih namun harus diperoleh penyelimutan yang seragam pada semua butir agregat. Pencampur terdiri dari ruang (chamber) dan poros kembar (twin shaft) yang dilengkapi dengan dengan kayuh atau pedal (paddle). Untuk menghasilkan pengadukan yang baik, pedal harus dalam kondisi baik (tidak aus) dan posisinya sedemikian rupa sehingga ruang bebas (clearance) antara ujung pedal dan dinding ruang pencampuran kurang dari 1,5 kali ukuran maksimum agregat. Pengisian yang terlalu banyak akan menyebabkan hasil pengadukan menjadi kurang sempurna,sementara pengisian terlalu sedikit tidak efisien. Dalam pugmill terjadi dua jenis pencampuran, yaitu pencampuran kering dan pencampuran basah (setelah ditambah aspal).Lamanya pencampuran kering diusahakan sesingkat mungkin untuk meminimalkan degradasi agregat, umumnya 1 atau 2 detik.Pencampuran basah juga diusahakan seminimal mungkin untuk menghindari degradasi dan oksidasi atau penuaan (aging) dari aspal.Apabila agregat kasar (tertahan saringan No. 8) telah terselimuti aspal maka pencampuran basah dihentikan, karena dapat dipastikan agregat halus juga telah terselimuti aspal.Umumnya waktu pencampuran sekitar 30 detik.
2.11. Tenaga penggerak
Untuk menjalankan semua bagian-bagian atau komponen-komponen AMP sumber tenaga utamanya adalah generator set atau gen set. Pada umumnya genset ini diputar oleh mesin diesel.Kekuatan atau kapasitas genset ini harus cukup untuk melayani kebutuhan motor-motor listrik yang dipakai serta peralatan-peralatan lain yang memakai tenaga listrik dan untuk penerangan.Semua sambungan-sambungan aliran listrik harus tertutup untuk mencegah arus pendek serta untuk keamanan lingkungan.
2.12. Ruang pengendali pengontrol atau ruang pengontrol (control room)
Seluruh kegiatan operasi unit peralatan pencampur aspal panas (AMP) dikendalikan dari ruang pengontrol atau control room ini. Ada 3 cara pengendalian operasi yang dikenal; yaitu cara manual, cara semi otomatis dan cara otomatis. Pada pengendalian operasi cara manual, pengaturan/pengoperasian komponen atau bagian-bagian peralatan pencampur aspal panas (AMP) dilakukan dengan mengatur sakelar atau tombol mengunakan tangan. Yaitu pengaturan pemasokan agregat, aspal, pembakaran pada burner, penimbangan, pencampuran serta pengeluaran campuran dari pencampur atau pugmill.Pengendalian secara semi otomatis, beberapa pengaturan pembukaan dan penimbangan masih dikontrol secara manual, termasuk bukaan pintu pengeluaran pugmill.
Pengendalian operasi secara otomatis, maka semua operasinya sudah diatur secara otomatis dengan sistem komputerisasi, termasuk kontrol apabila ada kesalahankesalahan atau ketidakcocokan dan ketidaklancaran operasi dari satu atau beberapa bagian kegiatan/ operasi, misalnya temperatur agregat panas rendah maka terkontrol pada burnernya, misalnya ditingkatkan pemanasannya. Pada pengendalian operasi secara otomatis harus lebih teliti pengamatan alat-alat ukurnya serta hubungan-hubungan sirkuit dari peralatan pencampur aspal panas (AMP) ke ruang pengendalian, karena besaran-besaran yang sudah diprogram bisa saja bersalahan akibat sirkuit yang terganggu, sehingga kemungkinan produk akhir berada di luar spesifikasi yang sudah dirancang atau diformulasikan sebelumnya

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Popular Posts

  • Konversi Kuat Tekan Beton F'c (MPa) ke K (Kg/cm2)
    Sumber : Google.com Beton terkenal karena kekuatannya dalam menahan gaya tekan. Kuat tekan beton merupakan parameter dari mutu/kualitas beto...
  • Mahasiswa Teknik Sipil Wajib Baca!! Istilah Proyek di Lapangan
    Sebelumnya saya senang mengucapkan selamat karena kamu sangat beruntung jika kamu adalah seorang mahasiswa teknik sipil yang sedang membaca ...
  • Membuat Laporan Harian, Mingguan, Bulanan
    Apa sih itu Laporan Harian, Laporan Mingguan, dan Laporan Bulanan? dan Bagaimana sih cara membuatnya? Bisa jadi inilah pertanyaan yan...
  • CARA MENENTUKAN TIPE RUMAH
    Apa sih maksudnya TIPE RUMAH 21, 36, 45, 54 dll ? seringkali para developer menawarkan jasa pembuatan rumah ataupun menjual rumah dengan me...

Follow Kami

  • Follow on Twitter
  • Like on Facebook
  • Subscribe on Youtube
  • Follow on Instagram

HALAMAN

  • Home
  • About Me

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  Agustus (2)
      • APA ITU RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)
      • Jenis - Jenis Fisher dan Fungsinya
  • ►  2024 (12)
    • ►  November (11)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  September (2)
  • ►  2021 (11)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2020 (8)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2019 (30)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (1)
    • ►  April (15)
    • ►  Maret (4)
  • ►  2018 (17)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (4)
    • ►  Mei (11)
  • ►  2017 (16)
    • ►  April (10)
    • ►  Maret (6)
  • ►  2016 (2)
    • ►  April (2)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (1)

Laporkan Penyalahgunaan

Pengikut Blog

Daftar Pengunjung Blog

MOTTO PENULIS

Sebanyak apapun Ilmu yang anda miliki, itu tidak akan berguna jika hanya untuk DIRI SENDIRI - Admin

Copyright © Ilmu Dasar Teknik Sipil | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates